Rabu, 29 Agustus 2007

OLAH RASA

II. OLAH RASA

tari.JPG

gondang.JPG

PELATIHAN PENYIAR RADIO TAHAP II

penyiar.JPG

Setelah menyiar selama kurang lebih enam (6) bulan di Radio KARINA (FM 98.7), sembilan belas (19) seminaris kembali mengikuti Pelatihan Tahap II. Kesembilan belas siswa tersebut terdiri dari 5 siswa Probatorium, 5 siswa Grammatica, 4 siswa Syntaxis, dan 5 siswa Poesis. Pendamping pelatihan ini adalah David Simbolon, seorang aktivis radio serta pemilik V-Radio di gelombang 94.00.


Tujuan pelatihan tersebut adalah (1) melahirkan seminaris yang handal dan berdaya guna di tengah-tengah umat; (2) melahirkan para calon imam yang kreativ dan terampil menjadi public-speaking; (3) melahirkan para calon imam yang siap bersaing dalam upaya peningkatan potensi diri; (4) menciptakan generasi umat katolik yang professional dalam bidang penyiaran (reporter dan penyiar).


Rektor Seminari, P. Daniel Erwin Manullang OFM Cap, menyatakan bahwa Seminari Christus Sacerdos tidak akan berhenti pada pelatihan ini. Selanjutnya, demi meningkatkan profesionalisme seminaris dalam hal produksi, dan untuk mengaktualisasi ilmu dan bakat yang dimiliki para seminaris, maka akan diadakan PELATIHAN PRODUKSI. Para seminaris akan dilatih membuat rekaman permenungan singkat, terampil membuat iklan atau pengumuman, ataupun karya seni. Tentu fasilitas untuk mewujudkan rencana tersebut sedang diupayakan. Seminari belum puas bila seminaris hanya pandai berceloteh di depan microphone, tetapi perlu menghasilkan sesuatu. Harus produktif!


Sejak dua (2) minggu yang lalu hingga satu bulan ke depan, para penyiar seminari telah dan akan menyiar di V-Radio (FM 94) pada pkl. 13.30-15.00. Bila nanti dirasa sudah mantap, maka para seminaris akan kembali menyiar di radio Karina (98.7) pada pkl. 16.00-17.00. Viva Seminari!

Rabu, 15 Agustus 2007

MY EXPERIENCE IN MINOR SEMINARY CHRISTUS SACERDOS, PEMATANGSIANTAR

Having received an invitation to visit Indonesia in June in the Australian winter, it was both a pleasure and a shock on arrival in July; pleasure in the hospitality of the friars, teachers and students and shock at the rather severe weather. The food was good but different in that I found it hard to accept the sweet, spicy dishes but I was very careful.


The idea of running or organizing a seminary/school these days is something very highly commendable. Especially with boarding students, it is a huge concern (there are only a very few Catholic boarding schools now in Australia). It is evident that the co-operation of the teachers and students is great. Of course, the BIG recurring thing is finance and I am sure that this is a big worry. We in Australia spend quite some money on vocations work even though our Postulants mainly enter some years after leaving school. Here you have a ready-made reservoir of possibilities with the Seminary and I think that the financials are more than adequate to meet the needs.


As regards English teaching, the class I had seemed very good at grammar and syntax. It would be good if they had more chance for conversational English, without the fear of making mistakes (virtually every one in Australia makes some sort of mistakes in spoken English!). I guess there is the emphasis on academic English and getting marks. It is the great extra benefit if the student feels somewhat confident in speaking English (writing down one’s ideas at first is a great help).


Finally, as this has been a first step. I hope and pray that there may be a very friendly and helpful exchange of friars and ideas, perhaps initially for short periods.


It was a most rewarding experience for me.


Br. Gerard O’Brien OFMCap.

Sabtu, 11 Agustus 2007

14 Juli 2007

Pace e bene

‘Multum in Pauco’ (=Sedikit tapi bermutu)demikian kata-kata yang terpampang di depan gedung Seminari, seakan menantang siapa pun yang mampu membacanya.




Para seminaris rindu bersua kembali, berjuang demi menggapai cita, menjawab panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Rangkaian tantangan telah menunggu para seminaris dalam rangkaian kegiatan dalam kalender tahun ini. Apakah masih bertahan?


Ups, ada wajah-wajah baru sedang nongol di gedung Seminari. Ada apa ya? Tepat! Tahun ajaran baru akan segera di mulai. Jadi hari ini para siswa harus kembali ke asrama Seminari. Jumlah pendatang baru ternyata cukup banyak, 74 orang. 74 orang pejuang baru kita ini berasal dari berbagai kota, propinsi, latar belakang, budaya dan tabiat, tapi sama dalam satu hal, yaitu ingin menjadi imam!!! Mereka adalah yang terpilih dari sekian ratus yang ikut test masuk Seminari. It means, bukan sembarang orang donk. Ceritanya, seorang seminaris adalah superhuman yang dituntut survive dalam menjawab berbagai syarat yang akan membentuk para pejuang menjadi extraordinary gentlemen bagi Tuhan dan sesama. That’s why, readers, please have a seat and katupkan tangan mohon doa bagi para pejuang yang mempercayakan masa depan mereka, untuk kita … umat-Nya di Seminari Menengah Christus Sacerdos. Sebuah cerita baru saja dimulai.

Pax Christi semper Nobiscum… (heri_de.pung)