Selasa, 04 September 2007

Dies Natalis ke-57

01 September 2007

Happy Birthday… Happy B’day to you my Minor Seminary ‘Christus Sacerdos’.

Hari ini Dies Natalis-nya Seminari Menengah yang ke-57, lho…


Met Ultah dah…! Semoga semakin berjaya dan tetap menghasilkan calon-calon imam yang handal dan berkapasitas.


Misa


Eitzzz… Seminari kedatangan tamu, neh… seorang seleb papan atasnya Gereja, siapa lagi kalau bukan Mgr. Pius Datubara, OFM. Cap. Kedatangan beliau selain sebagai owner-nya Seminari, juga menerimakan Sakramen Krisma bagi 88 krismawan (seminaris) dan 2 krismawati (karyawati). Dengan semangat, beliau memimpin jalannya perayaan, khususnya saat homili, para seminaris terikut dan mendengarkan kata demi kata yang meluncur lewat hati Ompung Uskup tersebut. Beliau secara tegas dan eksplisit mengungkapkan bahwa para seminaris sebaiknya tidak melulu mencuri ilmu di Seminari, sebab Seminari adalah wadah pembinaan calon imam menjadi unggul dan mampu menjawab panggilan Tuhan terhadap dirinya. Para seminaris tampaknya mengerti maksud perkataan Ompung Uskup, sebab mereka kelihatan mengangguk-angguk. Semoga!


Rabu, 29 Agustus 2007

OLAH RASA

II. OLAH RASA

tari.JPG

gondang.JPG

PELATIHAN PENYIAR RADIO TAHAP II

penyiar.JPG

Setelah menyiar selama kurang lebih enam (6) bulan di Radio KARINA (FM 98.7), sembilan belas (19) seminaris kembali mengikuti Pelatihan Tahap II. Kesembilan belas siswa tersebut terdiri dari 5 siswa Probatorium, 5 siswa Grammatica, 4 siswa Syntaxis, dan 5 siswa Poesis. Pendamping pelatihan ini adalah David Simbolon, seorang aktivis radio serta pemilik V-Radio di gelombang 94.00.


Tujuan pelatihan tersebut adalah (1) melahirkan seminaris yang handal dan berdaya guna di tengah-tengah umat; (2) melahirkan para calon imam yang kreativ dan terampil menjadi public-speaking; (3) melahirkan para calon imam yang siap bersaing dalam upaya peningkatan potensi diri; (4) menciptakan generasi umat katolik yang professional dalam bidang penyiaran (reporter dan penyiar).


Rektor Seminari, P. Daniel Erwin Manullang OFM Cap, menyatakan bahwa Seminari Christus Sacerdos tidak akan berhenti pada pelatihan ini. Selanjutnya, demi meningkatkan profesionalisme seminaris dalam hal produksi, dan untuk mengaktualisasi ilmu dan bakat yang dimiliki para seminaris, maka akan diadakan PELATIHAN PRODUKSI. Para seminaris akan dilatih membuat rekaman permenungan singkat, terampil membuat iklan atau pengumuman, ataupun karya seni. Tentu fasilitas untuk mewujudkan rencana tersebut sedang diupayakan. Seminari belum puas bila seminaris hanya pandai berceloteh di depan microphone, tetapi perlu menghasilkan sesuatu. Harus produktif!


Sejak dua (2) minggu yang lalu hingga satu bulan ke depan, para penyiar seminari telah dan akan menyiar di V-Radio (FM 94) pada pkl. 13.30-15.00. Bila nanti dirasa sudah mantap, maka para seminaris akan kembali menyiar di radio Karina (98.7) pada pkl. 16.00-17.00. Viva Seminari!

Rabu, 15 Agustus 2007

MY EXPERIENCE IN MINOR SEMINARY CHRISTUS SACERDOS, PEMATANGSIANTAR

Having received an invitation to visit Indonesia in June in the Australian winter, it was both a pleasure and a shock on arrival in July; pleasure in the hospitality of the friars, teachers and students and shock at the rather severe weather. The food was good but different in that I found it hard to accept the sweet, spicy dishes but I was very careful.


The idea of running or organizing a seminary/school these days is something very highly commendable. Especially with boarding students, it is a huge concern (there are only a very few Catholic boarding schools now in Australia). It is evident that the co-operation of the teachers and students is great. Of course, the BIG recurring thing is finance and I am sure that this is a big worry. We in Australia spend quite some money on vocations work even though our Postulants mainly enter some years after leaving school. Here you have a ready-made reservoir of possibilities with the Seminary and I think that the financials are more than adequate to meet the needs.


As regards English teaching, the class I had seemed very good at grammar and syntax. It would be good if they had more chance for conversational English, without the fear of making mistakes (virtually every one in Australia makes some sort of mistakes in spoken English!). I guess there is the emphasis on academic English and getting marks. It is the great extra benefit if the student feels somewhat confident in speaking English (writing down one’s ideas at first is a great help).


Finally, as this has been a first step. I hope and pray that there may be a very friendly and helpful exchange of friars and ideas, perhaps initially for short periods.


It was a most rewarding experience for me.


Br. Gerard O’Brien OFMCap.

Sabtu, 11 Agustus 2007

14 Juli 2007

Pace e bene

‘Multum in Pauco’ (=Sedikit tapi bermutu)demikian kata-kata yang terpampang di depan gedung Seminari, seakan menantang siapa pun yang mampu membacanya.




Para seminaris rindu bersua kembali, berjuang demi menggapai cita, menjawab panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Rangkaian tantangan telah menunggu para seminaris dalam rangkaian kegiatan dalam kalender tahun ini. Apakah masih bertahan?


Ups, ada wajah-wajah baru sedang nongol di gedung Seminari. Ada apa ya? Tepat! Tahun ajaran baru akan segera di mulai. Jadi hari ini para siswa harus kembali ke asrama Seminari. Jumlah pendatang baru ternyata cukup banyak, 74 orang. 74 orang pejuang baru kita ini berasal dari berbagai kota, propinsi, latar belakang, budaya dan tabiat, tapi sama dalam satu hal, yaitu ingin menjadi imam!!! Mereka adalah yang terpilih dari sekian ratus yang ikut test masuk Seminari. It means, bukan sembarang orang donk. Ceritanya, seorang seminaris adalah superhuman yang dituntut survive dalam menjawab berbagai syarat yang akan membentuk para pejuang menjadi extraordinary gentlemen bagi Tuhan dan sesama. That’s why, readers, please have a seat and katupkan tangan mohon doa bagi para pejuang yang mempercayakan masa depan mereka, untuk kita … umat-Nya di Seminari Menengah Christus Sacerdos. Sebuah cerita baru saja dimulai.

Pax Christi semper Nobiscum… (heri_de.pung)

Sabtu, 09 Juni 2007

QUO VADIS?

Siswa Rethorika 2007

Nama : Jomen Tondang
Asal Paroki : Saribudolok
Tempat/Tanggal Lahir : Bandarhinalang,
Pilihan : OFM Cap. Medan
Motto : Hidup itu indah jika itu berasal dari cinta.

Nama : Jesaya Surbakti
Asal Paroki : Paroki St. Fransiskus Asisi Berastagi
Tempat/Tanggal Lahir : Berastagi, 22 September
Pilihan : OSC
Motto : Don’t wait till tomorrow, what you can do today but no risk, no again.

Nama : Roni Paska Manurung
Asal Paroki : St. Yoseph Tebing Tinggi
Tempat/Tanggal Lahir : B. P. Mandoge, 28 Maret 1986
Pilihan : Projo Padang
Motto : Hidup ini sekali jadikanlah hari-harimu indah bagimu dan sesamamu.

KRONIK.....

"Yahowu..., Menjuah-juah..., Horas..., Anai leu sita...! Hai kawan-kawan semua, seperti biasa kami: Bukor, Bokir dan Baker datang untuk menemani Anda sejenak dengan aneka kisah kasih dalam rubrik ini....

06 Januari 2007


Dengan waktu yang berbeda, Bokir, Bukor, Baker bersama temannya yang lain berjalan sambil bercerita memasuki gedung besar, yang tak jarang dikenal sebagai Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar. Mereka membawa masing-masing sebuah tas menggantung di pundaknya. Terjemahan bebasnya: setelah libur akhir semester I, para seminaris yang berhasil survive sampai semester II pulang untuk melanjutkan perjuangan mereka di Seminari, demi memenuhi panggilan hidup menjadi imam.


Makhluk-makhluk penghuni gedung ini tampaknya panggilannya sedang berbunga-bunga setelah pulang dari rumah (kampung halaman) masing-masing. Masing-masing dalam hatinya sudah terpatri target yang harus dicapai dan diperjuangkan dalam semester II ini. Tak terkecuali Bokir, Bukor dan Baker.


What Indonesian Teenagers Should do to Face the Diffusion of Western Culture Which Indonesian Custom

Culture is a concern of people to carry out their needs, in order that their life will get better. It is not out of the questions that some people or institutions try to imitate ways, which can give them the perfection of life.

Almost all acts like sitting, standing, walking, lying down and lifestyle are the examples of how we ascertain of our choices or decisions about western culture.


I would say that these are caused by some factors, like:


1. Teenagers need new things, and eastern culture like that of Indonesian doesn’t have these new things. Teenagers, especially women, for example, try to imitate the ways of how western people dress up.


DOMITILLA CUBICULUM PARAT*

" Domitilla! Domitilla! Ubi es? Clamavit Marcia. Marcia anus erat.

" In horto sum, Marcia, quid vis? Respondit Domitilla. " Fessa sum, quod diu laboravi."


"Necesse est nobis cubiculum parare," inquit Marcia "Domina nobis hoc mandavit, qoud familiarem expectat."


" Eheu! Semper laboro. Est mihi nulla quies", inquit Domitilla.


" Puella ignavissima es", inquit Marcia. "Domina ipsa me ad te misit. Necesse est tibi cubiculum verrere. Necesse est mihi pavimentum lavare. Curre ad culinam! Quaere scopes!" Domitilla ex horto discessit et ad culinam lente ambulabat. Irata erat, quod cubiculum verrere nolebat. " Ego ornatrix sum", inquit. "Nos ornatrices nihil sordidum facinus. Non decorum est ornatricibus cubiculum verrere. Subito Domitilla consilium cepit et ad culinam quam celerrime festinavit. Simulac culinam intravit, lacrimis se tradidit. Volubilis commotus, ‘mea cokumba’, inquit,’cur lacrimas?’ ‘Lacrimo quod miseriima sum’, ancilla ei respondit. ‘Ego per totum diem laboravi. Quam fessa sum! Nunc necesse est mihi cubiculum parare. Ego non diutius laborare possum.’ ‘Mea columba, noli lacrimare!’ inquit Volubilis. ‘Ego tibi cubiculum parare possum.’ ‘Volubilis! Quam benignus es!’ Susurravit ancilla. Coquus cum ancilla ad cubiculum revenit. Diligenter laboravit et cubiculum fecit purum. Ancillla laeta dixit’. ‘Meum mei! Meum corculum!’ et coquo osculum dedit. Coquus erubescens ad culinam revenit.


Anus: Old woman; Nihil sordidum: No dirty jobs; Quid vis?: What do you want? Lacrimis se tradidit: Burst into tears; Necesse: Necessary; Commotus: Troubled, concerned; Hoc mandavit: Has given this order; Misserima: Very miserable, sad; Familiarem: Relation; Non diutius: No longer; Quies: Peace and quiet; Noli lacrimare: Don’t cry; Ignavissima: Bone idle; Susurravit: Whispered; Domina ipsa: The mistress herself; Purum: Clean, spotless; Verrere: Sweep; Mel: Honey; Lavare: Wash; Corculum: Sweettheart; Scopas: Broom; Osculum: Kiss; Lente: Slowly; Erubescens: Blushing

* Dikutip dari ‘Apud Salvium’, Cambridge Latin Course, Unit II Stage 14, hal. 6-7.

Buk! Bak! Bok!

CERPEN

Siang itu Bukor sedang asyik mengelus-elus perutnya sambil membayangkan enaknya tidur siang di domus (baca: kamar tidur). Tiba-tiba tangan kurus, kecil, kering menyambar cepat lehernya yang laksana timbunan gunung lemak itu. Pandangan bernafsu dengan mata yang seakan-akan hendak menelannya membuatnya takut setengah mati. "Bukorrr…," kata suara itu. "Tidak…," balas Bukor. "Ha… ha…ha…," suara tawa itu semakin keras. "Jangan…!" teriak Bukor lagi. "Ha…ha…ha…," suara tawa itu semakin keras. "Aku masih muda… JANGAN…!" teriak Bukor histeris bagai Tora Sudiro saat melihat Aming pakai bikini (red). "Ya…ha…ha…hei…JANGAN LARI DARI TUGAS. SEKARANG GILIRAN KITA MEMBERI MAKAN BABI!" Kejadian kemudian membuat seluruh penunggu Seminari (seminaris, red) yang sedang belepotan sabun berbalut kutang terharu dan tersentuh ketika Baker yang kurus menyeret-nyeret kaki Bukor yang meronta-ronta dan berteriak histeris, "AVE MARIA… GRATIA PLENA…"


Pelit

Dipersimpangan jalan, seorang pemuda sedang kehausan, lalu dia meminta air pada warung yang tak jauh darinya….


Pemuda : "Minta airnya sedikit Bu!"


Ibu : "Oh…air, harus bayar"


Pemuda : "Kok harus bayar sih Bu?"


Ibu : "Iya dong, sekarangkan serba bayar, masuk WC aja bayar!"


Pemuda : "Iya deh, berpa sih harganya?"


Ibu : "Oh…air dingin Rp 1000,00 dan air panas Rp 500,00"


Pemuda : "Minta air panaslah Bu!"


Namun setelah diberi air panas pemuda itu langsung sedot saja, jelas saja lidahnya terbakar. Melihat hal tersebut ibu itu bertanya…


Ibu : "Kok langsung diminum?"


Pemuda : "Nanti keburu dingin (sambil pergi)


Ibu : "?!?!?!"


 




by: Jhon Maradu, Probatorium 2006/2007



RUMAH MERTUA

Suatu kali Joni berkunjung ke rumah gurunya dengan membawa seekor tikus mati. Sampai di rumah guru….


Guru : "Joni,buat apa kamu bawa-bawa tikus mati kemari? Cepat buang sana! Dasar murid tak sopan!"


Joni : "Maaf, Pak! Awalnya saya ingin segera membuangnya! Tapi, saya akan sangat bersalah jika tak membawanya ke rumah mertuanya dulu!"


Guru : "?!?!?!?!"


 




Kaisar O Sihombing, Probatorium 2006/2007



DONOR DARAH

Wanto masih duduk di bangku SD. Suatu hari ia bertanya kepada guru agama.


Wanto : "Pak, apakah pastor-pastor itu semua ikut menjadi anggota donor darah, yach?"


Guru : "Ah, nggak. Emangnya kenapa?


Wanto : "Lha, saat misa mereka suka berkata, "Inilah darahku yang dikurbankan bagimu…"


Guru : "?!?!?"




Aluisius Lumban Gaol, Gramatica 2006/20007



Cinta Hati

Aku terhanyut dalam remang-remang
Kelabu biru, usai di janji dalam buai mimpi
t’rus lari pergi tanpa hati
Duka, lara dan iba pelengkap harapan basa-basi
Sukacita mendarah daging
dalam detakan denyut nadi
Hentak rayuan menjadi pelupuh diri
dan abaian dengungan sunyi
Menjadi ‘bisikan abadi’

Oleh: May Carlina S, Pengembara demi Cita dan Cinta

Langit Cinta

 


Ingin kumulai dari awal?


Ingin kukembali dulu?


Tapi……..


Dayaku tidak bisa


 


Kesendirianku meratapi kesedihanku


Semuanya sia-sia


Hanya langit bersamaku


Hanya bintang penerangku


Hanya bulan memperhatikanku


 


Air mata ini, kubuang dengan sia-sia


Karena tak ada harapanku


Aku hanya bisa tertunduk melihat bayangku


 


Harapan Di Tepian Bulan

Hawa dingin menusuk-nusuk kulitku


Hingga ke tulangku….


Angan-angan cinta kutenun dibenakku


Juga di relung hatiku….


 


Mataku memandang, memandang fana


Pikirku melayang, melayang ke angkasa


Semua ini menyata di malam kala


Ketika rembulan tertawai duka


 


Sepuluh menit tak terasa berlalu


Tak kurasa, mataku sembab menahan pilu


Kembali kupandang rumah roboh yang membisu


Di sana bapa mamaku terbujur kaku


 


Kini semua terhembus sudah oleh angin buritan


Asa anganku telah robek oleh taring-taring keganasan


Harapan hidup di tepian bulan


Kini tinggal kenangan, tak terlukiskan


 




Karya : Kaisar.O.Sihombing, Probatorium-A



Bergegaslah


PUISI




Dalam belenggu penghakiman yang kelam


Keluhan dan penderitaan berteriak kesakitan


Malapetaka terus membayangi


Kekacauan dan perbuatan biadab merajalela


Dalam ratap tangis dan keluhan benci


 


Perbuatan-perbuatan keji yang penuh racun


Ibarat mata air menampakkan keperkasaannya


Tak dapat lagi terkuasai


Masih adakah insane di bumi ini?


Insan berbudi luhur bijaksana?


Jawablah………!


Dengan segenap kelemahlembutanmu


Dalam naungan Tuhan


Engkaulah generasi Gereja


 


Semarakkanlah semangat yang kaku


Brilah kesegaran jiwa yang mati


Bergegaslah! God Bless Us!


 




Karya : Alnio Turnip, Probatorium 2006/2007



MENGAKTUALISASIKAN DIRI

Seorang filsuf Yunani berkata, "Pengetahuan dan pengetahuan dengan tindakan akan mengaktualisasikan diri kita". Banyak orang yang berpandangan bahwa hidup ini perlu bersaing, dan untuk itu kita butuh perjuangan dan niat yang kuat untuk mencapai niat kita tersebut.

Beraktualisasi berarti membuat diri kita betul-betul menjadi sebenarnya. Untuk menempuh kepribadian yang sebenarnya kita perlu mengetahui lebih dahulu tentang pribadi kita. Di sini kita akan diajak ke beberapa sub sebagai berikut :




A. Kepribadian



Kita hendaknya terlebih dahulu melihat dan memahami kepribadian kita. Apakah kita seorang pemaaf, pemarah atau yang lain-lain. Kita janganlah memandang diri kita sanggup untuk suatu hal yang sebenarnya tidak cocok. Cobalah untuk memahami apa yang lebih cocok untuk Anda.

B. Bakat




Kurang berbakat tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang bodoh. Jangan anda berkata, "saya mati bakat." Tidak ada kata tidak mampu seperti kata Einstein, "otak kita memiliki segalanya, tinggal kita bagaimana kita tergerak mau mencarinya." Jadi, jangan sia-siakan dirimu dengan keadaan yang memojokkanmu. Memang banyak orang yang multi bakat, namun bila kita tidak sanggup seperti mereka usaha-kan salah satu menjadi milikmu.




C. Tingkat Kreatifitas




Jangan sok pintar, sok jago, atau lain-lain. Jika kita tidak punya sesuatu yang dipandang berharga, kita bisa saja pilih bentuk pekerjaan yang diminati, namun sudahkah anda mengusahakan sesuatu itu menjadi milikmu atau menjadi suatu yang bermakna dalam hidupmu. Janganlah sok bisa atau sok mampu jika kita tak dapat melakukannya. Kita jangan terlampau berpikir menjadi orang-orang hebat dengan angan-angan yang melambung tinggi, yang akan mengakibatkan kita terjatuh dalam kesengsaraan. Suatu hal akan dipandang besar jika kita pintar membuat sensasi / ide-ide yang mutakhir terhadap barang itu.


Jadi, kita tidak akan dicap orang lagi sebagai orang yang bodoh, mati bakat, tak berpotensi. Melalui ketiga faktor tersebut kita akan dapat mencapai apa yang kita cita-citakan. Untuk itu, kita dalam mengambil sebuah peker-jaan atau memilih suatu karier semestinya memperhatikan hal-hal di bawah ini:


a. Pilihlah apa yang sesuai dengan pribadi Anda


b. Pikirkan konsekuensi dari pekerjaan tersebut, keuntungan lebih besar atau kerugian yang lebih besar


c. Pelajarilah pekerjaan itu dan cobalah memberikan suatu ide yang menunjang pekerjaan tersebut


d. Tekuni dan bersabarlah


e. Untuk memperoleh hasil yang lebih, buatlah kreatifitas sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.


Hal-hal di atas akan membantu Anda untuk mengaktualisasikan diri Anda. Percayalah jikalau Anda sudah mengaktualisasikan diri Anda, Anda akan dipandang sebagai orang yang paten. Seperti sebuah papan tulis, jika kita menuliskan sesuatu yang kurang penting, maka orang akan melihatnya kurang baik dan begitu sebaliknya.


Oleh: Marganda Purba, Syntaxis-IPS 2006/2007

Kekerasan dalam Dunia Pendidikan

OPINI


Baru-baru ini negeri kita digemparkan oleh kejadian yang mencoreng nama bangsa kita. Seorang praja dari salah satu institusi pemerintah yakni IPDN, meninggal dunia. Penyebabnya adalah tindak kekerasan dari seniornya. Nyawa seakan tak berharga di lingkungan institusi ini karena peristiwa ini bukan untuk pertama kalinya. Moralitas anak muda sekarang perlu dipertanyakan. Hal ini membuat bangsa kita meragukan kinerja lembaga pendidikan.


Apakah kekerasan pantas dilakukan di dunia pendidikan? Lalu apa sebenarnya penyebab adanya tindak kekerasan di lembaga pendidikan? Dendam, martabat, kedudukan, prestise kerap kali menadi alasan terjadinya tindak kekerasan di lingkungan pendidikan. Senior bukan lagi seorang kakak yang mendampingi adiknya,melainkan sebagai momok yang menakutkan. Tidak hanya mereka (siswa IPDN) yang pernah mengalami kekerasan. Siswa dari banyak sekolah lainnya juga pernah mengalami hal yang sama. Program MOS seringkali dimanfaatkan oleh para senior untuk menindas para siswa baru. Kesempatan ini digunakan untuk melampiaskan dendam masa lalunya. Paradigma yang salah ini menjadi alasan klasik para siswa senior untuk menindas para siswa baru. Padahal tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk pembimbingan para siswa. Pengalaman ini menyadarkan universitas-universitas maupun lembaga pendidikan lainnya. Bahkan banyak lembaga pendidikan menghapuskan program ini sebagai tindakan pencegahan.


Meskipun demikian, kekerasan ini masih saja terjadi di lingkungan pendidikan. Padahal lembaga pendidikan sebagai wadah untuk mengayomi para siswa, bukan untuk menindas para siswa. Kekerasan bukanlah suatu metode untuk mendidik siswa sebab kekerasan dapat merugikan banyak hal. Kekerasan tak hanya mengganggu organ fisik. Psikologis para siswa juga akan terganggu oleh adanya kekerasan. Kekerasan menekan psikis siswa sehingga perkembangan pendidikannya akan lambat. Tambahan pula siswa yang menerima kekerasan akan menyimpan setiap kejadian yang dialaminya di dalam memorinya. Sehingga kekerasan akan terus berlanjut seperti mata rantai yang tak pernah putus. Lebih parah lagi apabila kekerasan itu sudah mendarah daging atau sudah menjadi tradisi sehingga kekerasan tidak lagi dianggap tabu. Tradisi akan terus berlanjut apabila tidak ada tindakan yang tegas.


Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan memerlukan suatu metode yang dapat mendapat membangun moral para siswa, salah satunya adalah dengan menanamkan rasa persaudaraan. Dengan adanya rasa persaudaraan siswa akan menghargai orang lain terutama adik-adiknya. Situasi seperti ini akan menciptakan rasa aman sehingga perkembangan yang pesat akan tercipta. Para penyelenggara pendidikan pun harus tegas dalam menangani setiap tindakan kekerasan. Para penyelenggara tidak boleh menutupi tindakan kekerasan yang terjadi, karena hal ini akan membuka ruang untuk terjadinya tindak kekerasan lebih lanjut.


Ingatlah bahwa nyawa itu adalah anugrah Tuhan dan kita semua adalah saudara. Setiap orang harus berperan aktif untuk tidak menciptakan kekerasan, terutama di dunia pendidikan. Semoga!


 



Oleh: Ganda Putra Rajagukguk, Syntaxis-IPS 2006/2007

BUAT AYAH

PERCIKAN PENGALAMAN


Ketika aku menapaki panggilanku, banyak hambatan-hambatan yang besar. Langkah demi langkah kakiku kuangkat menuju titik hidupku.


Diwaktu masih kecil aku tetap dirundung malang yang begitu menyedihkan hingga aku terlarut dalam mimpiku yang sedih. Aku menangis ketika saya akan meminta uang kepada ibuku untuk uang sekolah. Ibu berkata, "sama ayahmu saja kamu minta!". Namun ayah tetap hampa dan tak berkutik karena dia telah menjudikannya. Air mata pun berlinang ketika ayah dan ibu saya bertengkar di rumah karena saya dan adik saya yang tak mau disuruh bekerja.


Memang kami tak mau bekerja karena kami berpikir, ini semua untuk ayahku. Raut muka ibuku yang yang sangat sadis membuatku bangun dari tidur. 

DEMI PANGGILAN…SEMUA KITA DIPANGGIL UNTUK….

SAJIAN UTAMA


Suka duka bersama seminaris adalah gelombang hidup yang harus dilalui. Sebagai pendamping, dalam hal ini guru, pasti sedikit banyak mengalami hal di atas. Bersama seminaris, sejuta harapan kita patri di pundak mereka. Sebagai seorang dewasa, kita bergandengan tangan dengan mereka menuju suatu panggilan. Apa panggilan mereka, sebagai guru, imam, atau….? Sebagai pendidik kaum muda, apa sebenarnya yang perlu kita lakukan, bagaimana dan mengapa? Sejumlah pertanyaan tak akan habis-habisnya hadir. Seminaris telah mengalami pasang surut, ada maju mundurnya. Pada dasarnya kedewasaan yang kita tuntut dari mereka secara utuh adalah merupakan proses berkesinambungan, tapi bagaimana kita membangun mereka secara utuh agar tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, pribadi yang menunjukkan suatu sikap yang konsisten terhadap segala tindakannya, keputusannya. Bagaimana seminaris itu berani mengambil resiko akan segala keputusannya, bagaimana mereka menempatkan diri di tengah badai gelombang hidup terhadap cita-cita dan panggilan mereka. Dari pengalaman bersama seminaris, tahap demi tahap, aneka ragam ‘uneg-uneg’ biasa kita dengar. Secara umum, seminaris masih didominasi oleh emosi dalam memutuskan suatu panggilan. Keputusan seminaris belum atas pertimbangan yang cukup matang. Seminaris cenderung pada keputusan apa adanya dan ikut pada arus teman. 

PENDIDIKAN DAN PEMBINAAN SEMINARIS KE DEPAN

RENUNGAN

Seminari Menengah dalam Sejarah Gereja

Konsili Trente dan Vatikan boleh dianggap sebagai konsili yang paling menentukan sejarah perjalanan Gereja Katolik Roma. Konsili Trente yang sebenarnya diadakan untuk mengantisipasi dan membahas gerakan Reformasi Protestan justru memutuskan banyak hal dalam bidang ajaran dan tata tertib hidup menggereja yang tidak diakui para reformator. Salah satu ajaran hakiki Gereja Katolik yang tidak diakui oleh Protestan ialah ajaran tentang sakramen Imamat. Imamat dalam Gereja Katolik tentu berkaitan dengan pembinaan sehingga seseorang pantas mendirii imamat tersebut. Seminari berada di tengah Gereja justru ada membahas persoalan imamat.


Pemahaman Konsili tentang Seminari tidak dapat dipisahkan dari ajarannya tentang imamat. Menyadari begitu penting peran imam dalam Gereja, maka perlu suatu displin, program dan langkah yang jelas bukan hanya dalam cara hidup imam tetapi juga dalam formasi atau pendidikan calon-calon imam. Dengan tepat bisa dikatakan bahwa Konsili Trente telah mereformasi pendidikan calon imam dengan mengeluarkan satu dekrit khusus tentang itu: De Reformatione yang disahkan pada tanggal 15 Juli 1563.


Konsili Trente merupakan konsili pertama yang mengaturkan untuk seluruh Gereja Katolik bahwa pendidikan imam harus melalui Seminari. Konsili melihat pentingnya kesatuan dalam hal ini; sekaligus diharapkan bahwa pembaharuan akan menghasilkan imam-imam yang tangguh dalam menghadapi dunia yang semakin bobrok dan gerakan para bidaah dan reformator. Seluruh isi dekrit tentang Seminari dalam konsili didasarkan pada upaya melindungi dan menjaga calon-calon yang masih sangat muda dari ancaman dunia dan para reformator. Oleh karena itu, para calon diisolasi dari kedua jenis ancaman itu, dilindungi dan dibentengi dalam Gereja. Dengan metode ini diharapkan bahwa calon-calon imam ini akan terbebas dari pengaruh roh duniawi dan reformator. Para calon-calon imam diharapkan menjadi manusia yang kudus, suci dan mempunyai pikiran yang jernih dari segala macam ajaran palsu sebagai seorang pejabat Gereja. Maka dengan jelas, Seminari (baik Seminari Tinggi maupun Seminari Menengah) dibentuk dalam kerangka untuk mendidik seseorang yang bercita-cita menjadi imam.


Sudah sejak dulu disadari bahwa bibit panggilan sering sudah ada dan tampak pada anak yang masih sangat muda. Sudah sejak lama (Perjanjian Lama – Kitab Samuel) seorang anak yang dipanggil dipisahkan dari orang-tuanya untuk dididik menjadi pelayan di tempat yang kudus. Pemisahan ini bertujuan untuk memupuk dan mematangkan panggilan yang sudah ada.


Yesus Kristus adalah model untuk setiap Seminaris. Dia yang adalah Allah diutus ke dunia untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia dengan mewartakan Kerajaan Allah. Sebelum melaksanakan misi luhur tersebut Yesus menjalani masa persiapan/pendidikan khusus. Sejenis Seminari: tinggal dan hidup secara tersembunyi di rumah sederhana di Nasareth. Ia mempersiapkan diri dalam doa dan pekerjaan di bawah bimbingan Allah dan orang-tuanya. Di bawah bimbingan Joseph yang penuh cinta dan kebapakan, dan kekudusan, kelembutan serta keibuan Maria, "Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Luk 2:52).


Seminari menengah harus mengarahkan dan menolong calon yang masih sangat muda untuk memahami pentingnya panggilan melalui pengalaman pribadi, dan untuk sampai pada pilihan bebas memeluk cara hidup khusus ini atau tidak. Seminari Menengah bukan terutama tempat di mana calon-calon mendapat kepastian akan panggilannya, tetapi lebih sebagai tempat untuk mempelajari tanda-tanda panggilan yang sebenarnya dengan bantuan Pembina.




Masa Depan Seminari Menengah Christus Sacerdos




Optatam Totius artikel 3, salah satu dokumen Gereja yang berbicara tentang Seminari Menengah menyatakan: Di Seminari-seminari menengah, yang didirikan untuk memupuk tunas-tunas panggilan, para seminaris hendaknya melalui pembinaan hidup rohani yang khas, terutama dengan bimbingan rohani yang cocok, disiapkan untuk mengikuti Kristus Penebus dengan semangat rela berkorban dan hati yang jernih. Hendaknya mereka di bawah bimbingan para pemimpin yang penuh kebapaan, dengan kerjasama para orang-tua yang sangat membantu, menjalani hidup yang cocok dengan usia, mentalitas dan perkembangan kaum muda, serta sesuai sepenuhnya dengan prinsip-prinsip psikologi yang sehat. Sementara itu, hendaklah diperhatikan juga pengalaman-pengalaman manusiawi secukupnya serta hubungan biasa dengan keluarga mereka. Kecuali itu semuanya, yang selanjutnya dalam dekrit ini ditetapkan tentang Seminari Tinggi, hendaknya-sejauh cocok untuk tujuan maupun metode pendidikan di Seminari Menengah-disesuaikan dengannya pula. Studi yang harus ditempuh oleh para seminaris harus diatur sedemikian rupa, sehingga mereka tanpa dirugikan dapat melanjutkannya ke tempat lain, sekiranya kemudian memilih status hidup yang lain.


Dari paparan dekrit Optatam Totius artikel 3 ini jelas terungkap bahwa hendaknya para seminaris, unggul dalam beberapa hal yakni: unggul dalam bidang intelektual, unggul dalam emosional dan unggul dalam hidup religius. Seminari Menengah Christus Sacerdos menjawab harapan Gereja di atas dalam seluruh program pembinaan dan pendidikan yang telah dilaksanakan selama ini dalam modus operandi-formation di Seminari Menengah.


Untuk menjawab isi Optatam Totius tersebut, tanggal 6-8 Pebruari 2007, Seminari Menengah menyelenggarakan Lokakarya yang khusus menggeluti arah pendidikan dan pembinaan seminaris ke depan. Dalam pergumulan ide selama 3 hari itu, ditetapkanlah arah pendidikan dan pembinaan Seminari Menengah Christus Sacerdos masa depan. Arah ini dituangkan dalam visi dan misi Seminari Menengah ke depan yang berbunyi sebagai berikut:




Visi




Seminari Menengah adalah wadah pembinaan orang-orang muda yang tampak memiliki bibit panggilan menjadi imam, untuk dibimbing menjadi pribadi yang seimbang dan unggul di bidang jasmani dan rohani, emosional dan intelektual, sehingga memiliki dasar yang kuat untuk menjawab panggilan hidupnya.




Misi




1. Meningkatkan mutu pendidikan Seminari Menengah sebagai wadah pembinaan orang-orang muda yang tampak memiliki bibit panggilan imam.


2. Membangun wawasan keunggulan sebagai etos Seminari Menengah.


3. Menciptakan dan mengembangkan kondisi yang mendukung keseimbangan unsur-unsur kepribadian.


4. Mengembangkan kegiatan rohani, kurikuler, ekstrakurikuler, lomba dan kegiatan sekolah yang relevan, konstekstual dan bermutu.


Muatan visi dan misi ini kiranya menekankan empat keunggulan seorang seminaris setelah mengalami pembinaan dalam formation Seminari Menengah yakni unggul dalam intelektual, unggul dalam emosional, unggul dalam hidup religius dan unggul dalam kepribadian.




Seminaris kiranya unggul secara Intelektual




Unggul secara intelektual maksudnya bahwa seorang seminaris mempunyai kelebihan yang sungguh signifikan dalam kemampuan intelektual bila dibandingkan dengan anak muda seusianya yang non seminaris. Seminaris hendaknya mampu menelaah, menganalisa suatu masalah. Seminaris dengan kemampuan intelektual yang mumpuni mempunyai daya pikir yang tajam, mampu belajar otodidak dll. Penyelenggara pembinaan dan pendidikan Seminari Menengah sekarang ini sungguh berupaya agar para seminaris dapat mencapai cita-cita ini. Saat ini guru-guru diberi kesempatan yang sungguh luas untuk memperdalam dan memperluas ilmu yang menjadi keahliaannya dengan mengikuti berbagai kursus, studi banding, membeli buku-buku, upgrading. Para guru dibekali bagaimana cara mengajar yang aktif dengan mendatangkan ahli-ahli pendidikan. Kurikulum diperbaharui. Guru-guru harus mampu menyusun satuan mata pelajaran sendiri. Guru-guru dituntut untuk menguasai IT (informasi dan tehknologi). Mendatangkan tenaga guru dari luar negeri bagi para murid. Seminari Menengah menyediakan fasilitas yang sangat memadai; perpustakaan buku yang cukup lengkap, laboratorium bahasa dan kimia yang cukup memadai, komputer dan internet. Guru yang kreatif akan memacu siswa juga kreatif. Semuanya ini diharapkan mampu menciptakan seorang siswa Seminari yang unggul dalam intelektual.




Seminaris harus unggul dalam emosional




Keunggulan siswa dalam emosional akan menunjang keberhasilan siswa dalam belajar dan hidup. Unggul secara emosional maksudnya bahwa siswa mampu untuk mengatur disposisi batin, siswa mampu untuk bekerjasama. Siswa yang unggul secara emosional akan mampu berdiskusi, akan mampu menerima dan menghidupi kritik, akan mempunyai daya juang yang tinggi dan pantang putus asa. Siswa yang matang secara emosional akan mampu hidup menderita, hidup dalam suasana sukacita.




Seminaris harus unggul dalam hidup religius




Hal ini memang harus menjadi satu keunggulan seminaris yang diharapkan menjadi pemimpin umat kelak. Maka dalam hal ini, seminaris mempunyai keniscayaan mempunyai nilai lebih dari yang lain. Untuk mendukung keunggulan ini, Seminari Menengah memfasilitasi siswa dengan berbagai macam kegiatan. Misa setiap hari, lectio brevis satu kali dalam seminggu, bacaan rohani, retret dan rekoleksi, latihan meditasi, kerasulan anak sekolah minggu dan doa lingkungan, pengakuan dosa, berkunjung ke tempat-tempat wisata rohani, menulis refleksi harian. Melalui seluruh kegiatan ini, siswa diharapkan akan mempunyai rasa religius yang tinggi. Keunggulan ini tampak dalam rasa empati yang tinggi, pengorbanan terhadap orang lain, kemauan untuk saling meneguhkan dalam panggilan, keterbukaan untuk berbagi hidup, kemampuan untuk mensyukuri, sikap ikut serta menderita bersama teman.


Ketiga dimensi keunggulan ini harus seimbang dalam hidup Seminaris sehingga Seminaris akhirnya unggul dalam kepribadian. Inilah mimpi Seminari Menengah ke depan!!!! Semoga cita-cita ini semua tidak hanya mimpi tetapi menjadi sebuah kenyataan. Dengan ini diharapkan Seminaris mampu menjadi pemimpin yang unggul, visioner, pemimpin yang saleh di masa depan. Gereja pun akan semakin jaya bila pemimpinnya dapat diandalkan!


 


Sdr. Venantius Qwei, Staff Seminari Menengah

Selasa, 05 Juni 2007

Siswa Seminari 2007/2008

Probatorium A


Probatorium B


Probatorium C


Grammatica A


Grammatica B


Syntaxis IPA


Syntaxis IPS


Poesis IPA


Poesis IPS


Rhetorica

Kamis, 17 Mei 2007

BERPISAH

Tunggu, jangan keburu nangis! Mari, silahkan baca dulu ini artikel. Gini ceritanya, adalah kegiatan tahunan Seminari dalam mengadakan perpisahan ini. Kejam? Sabar! Sejumlah seminaris, beberapa pejuang kita, yang masuk dalam skuad Poesis 2006/2007, mau tidak mau akan hengkang dari rumah ini, meletakkan diri atas kehendak Tuhan (baca: menjadi pelayan bagi umat Allah). Untuk ini Seminari mengadakan misa perpisahan melepas kepergian mereka. Meski masih seumur jagung, skuad ini telah memberi banyak dalam kemerduan nama Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar, dan mereka telah memperoleh sangat banyak dari almamater-nya ini.

Katanya panggilan itu misteri, buktinya 8 pejuang memilih untuk tidak memilih untuk melanjut ke jenjang pendidikan calon imam lagi. Cerita mereka, perjuangan di Seminari cukuplah dulu, di tempat lain kami akan berjuang. Misteri!

Walaupun demikian staff Seminari bersyukur telah ikut serta dalam pembimbingan rohani anggota skuad ini. Dalam misa ini, kita mohon semoga para pejuang, hidup seturut kehendak Tuhan dan mengabdi kepada masyarakat, keluarga dan Tuhan. Fiat mihi secundum verbum Tuum. (_pung)

AUDI NOS...

Dengarlah kami... Dengar apa ya? Seperti yang sebelumnya diceritakan, setelah mengikuti training untuk menjadi penyiar radio, beberapa seminaris kini telah bertugas di Radio KARINA mengudara di 98,7 FM langsung dari Biara Kapusin Nagahuta. Program yang mendidik ini, merupakan lahan untuk menggarap potensi-potensi seminaris yang masih tersembunyi. Sekali lagi,terima kasih kepada staff Seminari yang memberi lahan ini.

Mau tahu bagaimana aksi para pejuang kita? Langsung putar frequensi ke 98,7 FM dan temukan diri Anda tersenyum kepada dunia.Programnya: Minggu-Kiasan (Kisah Para Santo) Senin-Salutare (Salam Untuk Anda dan Request),  Selasa-Seminari (Selingan Musik dan Info Hari Ini), Rabu-Salutare, Kamis-Gloria (Gelora Olahraga dan Informasi Aksinya), Jumat-Cantus (Kata-kata Mutiara untuk Saudara), dan Sabtu-Salutare.

Semoga informasi ini dapat berguna bagi Saudara/i yang berniat untuk mendengarnya dan Selamat Mendengar! Masih tersenyumkah? (_pung) 

Minggu, 29 April 2007

KARATE-DO-TAKO

Seminaris menurut cerita orang memiliki kategori berikut: ganteng, imut, culun, pinter, kalem, alim dan banyak dah yang laen. Berita baru yang perlu ditambahkan orang pada kategori itu adalah: jago. Pada 27-28 April 2007, sejumlah kecil seminaris mengikuti Kejuaran TAKO memperebutkan piala Bupati yang diadakan di Sopo Godang Jl. Asahan. Menimbang tidak sedikitnya peserta dari setiap dojo, maka sparing atau komite diadakan sesuai dengan class-nya masing-masing, ada yang disebut class pemula, prakedet, kadet, junior dan senior. Hari itu juga para seminaris berangkat mengikuti kejuaran TAKO Bupati Cup, sayangnya karena banyaknya peserta, pada gilirannya mereka terpaksa di pertandingkan keesokan harinya.
28 April 2007, dengan percaya diri mereka berangkat menuju tempat kejuaraan. Di sana mereka kembali berjumpa dengan atlet Siantar dan sekitarnya. Seminaris bertarung ...
Bukan hal yang sia-sia mereka berlatih selama ini. Para seminaris pulang membawa 3 medali emas.
Perlu ditambahkan kategori: Seminaris juga jago. (_pung)

Jumat, 27 April 2007

SEMINARI JUARA I VOCAL GROUP

Setelah mengikuti Babak Penyisihan di Auditorium Universitas Nomennsen, Pematangsiantar, pada tanggal 25 April 2007, pejuang Seminari yang berjumlah 10 orang dinyatakan oleh juri berhak melangkah ke Final Festival dalam rangka memperingati HARDIKNAS 2 Mei 2007 & Hari Jadi Kota Pematangsiantar. Keesokan harinya, pukul 08.00 WIB dengan semangat, mereka melangkahkan kaki ke gelanggang pertandingan untuk mengharumkan nama Seminari. Pada Festival ini mereka akan membawakan lagu wajib GEBYAR! GEBYAR! dan lagu pilihan BORU PANGGOARAN. Dengan nomor undi 6, para penyanyi Seminari menampilkan yang terbaik dari diri mereka. Setelah lagu pilihan selesai dinyanyikan, gemuruh tepuk tangan serasa menggetarkan gedung besar tersebut.

Dengan berkat Tuhan Yang Esa dan usaha para pejuang serta dukungan moril dari para seminaris dan staf,  Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar meraih Juara I Festival Vocal Group Tingkat SMA se-Pematangsiantar dengan angka mutlak. Atas keberhasilan tersebut Seminari akan memperoleh sebuah pialah, piagam dan uang pembinaan, yang akan diserahkan pada tanggal 2 Mei 2007. Ad Maiorem Dei Gloriam. Bravo Seminari! (_pung)

Sabtu, 21 April 2007

Menjadi Seminaris yang Kreatif

Pada zaman edan ini, semua orang bukan hanya dituntut untuk cerdas secara intelektual dan keterampilan tetapi juga harus sangat urgent. Tanpa ada kreativitas dalam mengerjakan sesuatu, seseorang hanya mampu menciplak/flagiat dan tak dapat mencipta. Bila hal itu tidak kita kembangkan/tidak kita sadari pada diri kita, kita dapat saja "dijajah" oleh orang lain. Kini kita harus menyadari realita tersebut, bahwa kreativitas itu mengambil peranan yang amat penting (urgent) dalam meraih kebahagian pribadi maupun bersama.


Orang kreatif pada hakikatnya unggul dalam pekerjaan, memiliki pendirian, mampu memberikan ide-ide baru, conceptual, dan sebagainya. Orang tersebut mungki mampu saja untuk memecahkan masalah dengan arif dan bijaksana.


KREATIVITAS

Banyak hal yang bisa dikatakan bila berbicara tentang kreativitas. Kita bisa saja menyoroti bidang-bidang tertentu dalam kreativitas. Kita juga bisa menyoroti pribadi/kelompok yang berkreativitas. Kita juga bisa membicarakan tempat atau lokasi yang dalam kaitan dengan kreativitas yang sesuai, dan lain sebagainya. Singkatnya, pembicaraan tentang kreativitas, bisa menjadi begitu luas, sehingga saya harus membatasinya dalam cakupan faktor-faktor pendukung munculnya kreativitas dalam diri seseorang. Saya melihat bahwa kreativitas diharapkan selalu membuahkan hasil-hasil yang positif dalam mengembangkan yang lain. Itulah yang seharusnya kita lihat dalam suatu kreativitas, yakni: kelahiran sesuatu yang baik menuju kepada pembaharuan yang mengembangkan. Semangat inilah yang ingin saya bagikan kepada para pembaca yang budiman.

KREATIFITAS BERSUMBER DARI ALLAH

 KREATIFITAS BERSUMBER DARI ALLAH


(Refleksi atas kreatifitas Allah dalam menciptakan manusia)


 Bulan September yang lalu saya diminta oleh redaksi LEMBAGA untuk membuat renungan tentang kreatifitas dalam pengertian Biblis. Aku sedikit bingung untuk menguraikan tema ini dengan jelas sesuai dengan permintaan mereka. Alasannya karena dalam Kitab Suci tidak ada kata yang dengan tepat dan jelas menguraikan tentang kreatitifitas. Meskipun demikian di dalam Kitab Suci kita bisa menemukan bagaimana Allah dengan kreatif-Nya menciptakan segala sesuatu di dunia ini termasuk manusia. Untuk memahami tema ini kita mesti mengetahui apa sebenarnya kreatifitas itu.


Kreatifitas berasal dari kata dasar kreatif yang memiliki akar kata to create yang artinya mencipta, menghasilkan. Jadi kreatifitas adalah kemampuan manusia untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang positif dan berguna bagi dirinya dan juga bagi orang lain. Menurut David Campbell kreatifitas merupakan suatu ide atau pemikiran manusia yang bersifat inovatif, useful (berdayaguna) dan dapat dimengerti (understandable). Mempersoalkan arti dan manfaat kreatifitas bagai mempertanyakan arti makanan bagi makhluk hidup atau air bagi tanaman. Sulit membayangkan terciptanya sebuah karya seni tanpa kreatifitas. Jadi makna kata kreatif sesungguhnya hanya berkisar pada persoalan mencipta atau menghasilkan sesuatu.


Jumat, 20 April 2007

SEMINARI MENENGAH…

the Future of the Church of Medan



July 17, 2006 was my first day in Seminari Menengah. It was a day of expectations and at the same time of fear for the teaching job is not easy; and to teach the young Seminarians, who, if not all of them, some of them might become the future "shepherds" of the Church? Well, as I often remind myself; a great privilege and a responsibility.


For more than two months now that I am sharing my time as a teacher to the young Seminarians and also to the Faculty members of the Seminary, I think I am enriched with many new experiences. One of my best experiences is the felling to be at home everybody. I never felt to be a stranger even if I can’t communicate well in Indonesian language; neither it’s a barrier nor a difficulty to take a step for interpersonal relationship. The Seminary offers much opportunity for me to learn the culture, custom, and language of the people. It provides me somehow of what is important in dealing with others, particularly to people with lots of differences. My teaching experience also helps to widen more and more my way of judging and of looking persons and events.


Menemukan Hidup dengan Merenung

Dengan menyadari bahwa hidup rohani para seminaris masih perlu ditingkatkan, maka 'staf dalam' dan 'magister spiritualis' mengambil beberapa kebijaksanaan dalam penciptaan suasana yang kondusif saat mengikuti kegiatan rohani, secara khusus pada masa Prapaskah ini. Para seminaris diajak untuk membawakan ibadat Jalan Salib dengan membagikan hasil renungan pribadi tentang analogi Jalan salib Yesus dengan 'Jalan Salib Panggilan' sebagai seorang seminaris dalam setiap perhentiannya.
 Pada umumnya para seminaris cukup merespon kesempatan untuk merenung sambil berkereasi ini. Hal tersebut tampak dari kreativitas mereka dalam membawakan ibadat tersebut sehingga acara tidak membosankan. Kita betul-betul diajak untuk merenung dengan ikut berpartisipasi dalam Jalan Salib hidup. Dengan ini seminaris diharapkan dapat merenungkan perjalanan hidupnya, sehingga jelaslah bahwa mengikuti Yesus bukanlah hal yang mudah, butuh pengorbanan, cinta kasih, kesabaran, ketaatan dan iman. Dengan kata lain, suatu waktu seminaris diharapkan dapat menapaki jalan hidupnya yang betul-betul merupakan hidup dari perenungannya sendiri. Semoga!

     Bastanta Bernardus P. de Poesis-IPS 2006/2007

Karya-Nya yang Sempurna

Ingin kuraih suatu impian
Yang tak mungkin dapat kuraih
Ingin kupetik bintang
Namun aku hanyalah manusia
Bukan Dewa…..

Aku ingin segala karyaku
dikenal oleh semua makhluk
namun aku hanyalah manusia biasa
yang tak dapat melakukan itu

Telah kujelajahi semua tempat
Telah kumasuki semua lorong-lorong
Untuk mencari karya yang sempurna
Demi kesempurnaan hidup ini

Kadang kala aku mengaduh nasib
Menanatikan sebuah jawaban
Kadang aku terjatuh dihadang
Oleh seribu tangan

Tapi kini aku bagaikan dewa
Yang dapat melakukan semua itu
Berkat Cahaya Ilahi-Mu
Yang menuntun jalanku.

Oleh : Patrisius Doli
Probatorium B 2006-2007

Membongkar Rahasia Dunia dengan Berkreatifitas

Sifat hakiki dari setiap manusia adalah perasaan yang tak pernah puas. Sudah tamat dari SD, ingin masuk ke SMP, tamat dari SMP ingin masuk SMA, tamat dari SMA ingin Kuliah lagi dan seterusnya meniti ke jenjang yang lebih tinggi, tapi perlu diingat bahwa sifat yang tak pernah puas itu tidak boleh disama artikan dengan ikatan konsumerisme, sebab konsumerisme itu cenderung bersifat negatif.


 


Pada masa kini, manusia berlomba untuk mendapatkan sesuatu hal yang terbaru, rasanya menginjakkan kaki di bulan sudahlah hal yang biasa, khususnya bagi negara-negara yang sudah berkembang, seperti Rusia, Amerika Serikat, Jepang dan lain sebagainya. Bagaimana dengan Indonesia? Tentu tidak. Faktanya, Indonesia masih tetap dalam tahap perencanaan dalam problema ini. Apakah hal ini akan mencapai garis finish? Apakh masyarakat Indonesia masyarakat pilihan Tuhan? yaitu puas dengan apa yang telah dimilikinya.


 



Senin, 09 April 2007

PELATIHAN CARA BELAJAR AKTIV

 


Dua puluh satu orang (21) staff dan guru Seminari ditambah dengan guru-guru dari yayasan St. Laurentius dan SMA + SMK Assisi Pematangsiantar mengadakan pelatihan cara belajar aktif.


Pelatihan ini menghadirkan empat (4) pakar dari Jawa, yang seluruhnya dibiayai oleh Bpk. Herman Sinaga, alumnus Seminari Menengah Christus Sacerdos.


Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas loka karya ‘Arah dan Pembinaan Calon Imam di Seminari Menengah Pematangsiantar,’ yang diadakan pada bulan Februari 2007.


Diharapkan lewat pelatihan ini, para guru Seminari menjadi lebih kreatif menggunakan metode-metode mengajar, sehingga para Seminaris lebih bergairah dalam belajar.


Pelatihan ini sekaligus menjadi persiapan menyusun kurikulum seminari.


Semoga Seminari semakin maju! (DE)

Sabtu, 07 April 2007

Mengadu Masa Remaja dalam Test Masuk Seminari

Sejumlah orang dengan kepala tertunduk malu menyusup menelusuri koridor menuju kamar massal anak testing. Merek dipandu oleh beberapa anak seminaris. Di situ, terkenang kembali moment tiga tahun lalu. Kala itu, mencoba menjawab bisikan seakan memanggil ke Seminari Menengah Pematangsiantar dan mengikuti test masuk Seminari. Kini yang dipanggil pun masih mencoba mempersiapkan diri atas pilihan yang akan harus dipilih.

Rabu, 07 Maret 2007

REMAJA YANG DEWASA

Saya diminta oleh redaksi majalah ini untuk menulis tentang remaja yang dewasa. Karena saya tahu bahwa pembaca majalah ini kebanyakan para siswa seminari menengah, maka saya coba membuat tulisan ini dalam konteks pendidikan di seminari menengah pula. Isi tulisan ini dibuka dengan membahas tujuan pendidikan seminari menengah, dan kemudian memaparkan ciri-ciri remaja yang dewasa dalam arti psikologis dan kristiani, yang menjadi tujuan pendidikan di seminari menengah.

Pendidikan Seminari Menengah

Ketika membela thesis saya yang berjudul ‘A Cross-cultural Comparison of the Motivations of Adolescents Entering Minor Seminary,’ salah seorang penguji meragukan perlunya mempertahankan lembaga pendidikan seminari menengah sebagai tempat pendidikan calon imam. Menurutnya, masa remaja (12-18) adalah masa pancaroba. Disebut masa pancaroba karena saat itu seorang anak mengalami perobahan besar secara fisik, cognitive, psiko-sosial, dan moral. Pada masa tersebut, mereka membutuhkan pendamping atau pembimbing yang bisa mengerti akan diri mereka. Pembimbing yang terbaik tentunya adalah orangtua mereka sendiri. Selanjutnya penguji saya itu juga berkata, mendidik seseorang menjadi calon imam secara dini bisa menghambat pertumbuhan aspek-aspek kepribadian lain yang sangat penting dimiliki, yakni otonomi, seksualitas, dan realisme. Bahkan penguji saya itu berkata, “We have priests whose feet do not touch the ground.”

Minggu, 04 Maret 2007

The Power Of Laugh

Ella Wheeler Wilcox said that laugh so that world will be laugh with you. This Ella’s word is a good word to abbreviate that laughter is important, so beautiful and interested.
In this time I want to tell you about the power of laugh, which always you hear but never you understand.
Like Ella said before that laugh so that world will laugh with you. It’s true! Laughter will make your family more happy, to reach your healthy, and it shall increase your new friends, laughing can create happier life, pure, and spirited.

ALAM KEDEWASAAN ROHANI

OLEH: R.Imando
Syntaxis A

Berbicara tentang “kedewasaan rohani” tidak bisa lepas dari “hidup rohani”. Karena kedewasaan rohani merupakan gambaran kematangan pribadi dalam hal-hal berbau rohaniah. Dan hal-hal rohaniah itu sendirilah yang terkandumg dalam hidup rohani. Artinya kedewasan rohani adalah perwujudan dari kematangan seorang yang menghidupi hidup rohani.
Dalam perkembangan jasmani, kita dapat melihat atau merasakan proses untuk mencapai kedewasaan itu. Misalnya perubahan bentuk tubuh dan peraliahan suara, saat seseorang berada dalam tahapan akil balik. Berbeda dengan kedewasaan rohani. Orang yang telah dewasa- rohani, tidak ada gejala ril dalam fisiknya.

Sabtu, 03 Maret 2007

CHALLENGE

I have ever seen a TV program which title is challenge. This program needs courage of effort from the people at the surroundings to follow it as a participant and do something and perhaps they have never done, for example: climbing mountain side, eating very pungent one kilogram and etc, and who succeed to do it will be the winner and get some money. Many people in that place watch the program, but only a few people have courage to do it.
In our daily life we often face things we have never met before or a challenge. Well, when you are facing a challenge, how is your reaction, will you face it, or avoid it?. Certainly will face and subjugate it, but in fact most of us avoid it. Now, I will explain to you what is a challenge, and what we must do. So that we can face and subjugate the challenge.

Jumat, 02 Maret 2007

Kronik Kompetisi Volley

Selasa, 27 Februari 2007
Warga Seminari boleh berbangga atas lolosnya tim Volley Seminari ke Semifinal Kompetisi bola volley tingkat Pelajar se-Pematangsiantar.
Pukul 16.30 WIB pejuang Seminari mulai menunjukkan batang hidungnya di GOR Pematangsiantar, bersiap untuk memperjuangkan almamater-nya pada event ini, berhadapan dengan SMK Taman Siswa. Seakan tak mau kalah, para supporter pun bergegas menuju GOR, mendukung tim yang dibanggakan. Mungkin orang yang melihat para supporter itu bertanya dalam benaknya, "Mereka ini, ada apa ya? Koq, semuanya pada senyum?" Para seminaris sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, mengarang cerita yang tak jauh beda dengan supporter tim lain. Begitukah nantinya?

Karena satu dan lain hal terjadi sesuatu di luar dugaan tim Seminari. Pertandingan SMA SEMINARI vs SMK TAMSIS akhirnya diadakan kira-kira pukul 20.00 WIB. Kalau sudah jam segini, apa yang biasanya terjadi? Orkestra pun dilantunkan di perut. Tapi tak apa, spirit harus tetap membara!

Kamis, 01 Maret 2007

Perpustakaan Seminari Juara II



Hari ini, tgl 28 Februari 2007, diumumkan bahwa Perpustakaan Seminari meraih juara II perpustakaan sekolah terbaik di kota Pematangsiantar dalam perlombaan perpustakaan sekolah tingkat SLTP/SMA tahun 2006. Perlombaan ini diadakan oleh Perpustakaan Kota Pematangsiantar bekerja sama dengan Pemerintah Kota. Juara I adalah SMK Negeri 3, juara II SMA Seminari, juara III SMA Budi Mulia, Harapan I SMP Negeri 2, Harapan II SMK Negeri 2, dan Harapan III SMA Kalam Kudus. Atas kejuaraan ini, Seminari berhak menerima sebuah piala dan sejumlah buku. Pada tahun 2007, Perpustakaan Seminari diikutsertakan dalam lomba perpustakaan sekolah tingkat provinsi. Penilaian akan diadakan antara bulan Maret-Agustus 2007. Ayoo… Seminari…… masih ada waktu untuk berbenah. (DE)





Senin, 26 Februari 2007

Daftar Siswa Seminari

anaksem.jpg

Inilah wajah-wajah Siswa Seminari, selengkapnya
dapat di lihat pada Daftar lengkap, klik... :)

Bunga Panggilan

Ingin aku beranjak
Pada suatu masa
Yang terbersit dalam isak
Menambah perihnya sukma

T’lah kutempuh sejuta jalan
T’lah kumasuki seribu lorong
Tuk dapatkan satu jawaban
Tapi semuanya…… Kosong

Mereka ingin aku pergi
Hempaskan indahnya bunga
Yang kurangkai dalam hati
Tiga tahun lamanya

Saat ada kata “ mengapa”
Dalam jiwa yang merana
Jawaban mereka tak ada beda
“ Indahnya bunga dunia ”

Kuuntai puisi ini
Sebagai suatu tanya
Teruntuk mereka semua
Khususnya yang paling kucinta
“ Bunda…. Haruskah bunga ini hancur ?”

Oleh: Robby Imando Situmorang de Poesis-IPS 06/07

Jumat, 16 Februari 2007

A Brighter Day is on The Way

Don’t ever try to understand everything
Somethings will just never make sense
Don’t ever be reluctant to show your feelings
When you’re happy, give into it !
When you’re not, live with it.
Don’t ever be afraid to try to make things better
You might be surprised at the results
Don’t ever take the weight of the world
On your shoulders
Don’t ever feel threatened by the future
Take life on day at a time
Don’t ever feel guilty about the past
What’s done is do
Learn from any mistakes that you might have made
Don’t ever feel that you’re alone
There is always somebody
There for you
To reach out to…
Don’t ever forget thet you can achieve
So many of the things you can imagine
Imagine that ! It’s not as hard as it seems
Don’t ever stop loving
Don’t ever stop believing
Don’t ever stop dreaming your dreams…

Oleh: Paulus Sinaga de Syntaxis-IPS 06/07

Kamis, 01 Februari 2007

TEST MASUK SEMINARI

PENGUMUMAN TEST MASUK SEMINARI MENENGAH CHRISTUS SACERDOS

Dibuka pendaftaran siswa baru dan test masuk Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar. Anda yang berminat mendaftarkan, silahkan menghubungi Pastor Paroki untuk mengisi formulir pendaftaran.

I. Ketentuan/Persyaratan adalah sebagai berikut :

  • Beragama Katolik dan berjenis kelamin laki-laki.

  • Merasa terpanggil dan berminat untuk menjadi imam.

  • Pendaftaran ini ditujukan kepada anda yang saat ini duduk di kelas III (tiga) SMP dan SMA/SMK atau anda yang telah lulus.

  • Bersedia mengikuti test seleksi meliputi : Test IQ, Kepribadian serta wawancara.

  • Pendaftaran melalui Pastor Paroki.

  • Waktu pendaftaran: mulai bulan Desember 2006 sampai awal Maret 2007.

  • Waktu sangat terbatas, oleh karena itu : SEGERALAH MENDAFTARKAN DIRI.