Sabtu, 09 Juni 2007

QUO VADIS?

Siswa Rethorika 2007

Nama : Jomen Tondang
Asal Paroki : Saribudolok
Tempat/Tanggal Lahir : Bandarhinalang,
Pilihan : OFM Cap. Medan
Motto : Hidup itu indah jika itu berasal dari cinta.

Nama : Jesaya Surbakti
Asal Paroki : Paroki St. Fransiskus Asisi Berastagi
Tempat/Tanggal Lahir : Berastagi, 22 September
Pilihan : OSC
Motto : Don’t wait till tomorrow, what you can do today but no risk, no again.

Nama : Roni Paska Manurung
Asal Paroki : St. Yoseph Tebing Tinggi
Tempat/Tanggal Lahir : B. P. Mandoge, 28 Maret 1986
Pilihan : Projo Padang
Motto : Hidup ini sekali jadikanlah hari-harimu indah bagimu dan sesamamu.

KRONIK.....

"Yahowu..., Menjuah-juah..., Horas..., Anai leu sita...! Hai kawan-kawan semua, seperti biasa kami: Bukor, Bokir dan Baker datang untuk menemani Anda sejenak dengan aneka kisah kasih dalam rubrik ini....

06 Januari 2007


Dengan waktu yang berbeda, Bokir, Bukor, Baker bersama temannya yang lain berjalan sambil bercerita memasuki gedung besar, yang tak jarang dikenal sebagai Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar. Mereka membawa masing-masing sebuah tas menggantung di pundaknya. Terjemahan bebasnya: setelah libur akhir semester I, para seminaris yang berhasil survive sampai semester II pulang untuk melanjutkan perjuangan mereka di Seminari, demi memenuhi panggilan hidup menjadi imam.


Makhluk-makhluk penghuni gedung ini tampaknya panggilannya sedang berbunga-bunga setelah pulang dari rumah (kampung halaman) masing-masing. Masing-masing dalam hatinya sudah terpatri target yang harus dicapai dan diperjuangkan dalam semester II ini. Tak terkecuali Bokir, Bukor dan Baker.


What Indonesian Teenagers Should do to Face the Diffusion of Western Culture Which Indonesian Custom

Culture is a concern of people to carry out their needs, in order that their life will get better. It is not out of the questions that some people or institutions try to imitate ways, which can give them the perfection of life.

Almost all acts like sitting, standing, walking, lying down and lifestyle are the examples of how we ascertain of our choices or decisions about western culture.


I would say that these are caused by some factors, like:


1. Teenagers need new things, and eastern culture like that of Indonesian doesn’t have these new things. Teenagers, especially women, for example, try to imitate the ways of how western people dress up.


DOMITILLA CUBICULUM PARAT*

" Domitilla! Domitilla! Ubi es? Clamavit Marcia. Marcia anus erat.

" In horto sum, Marcia, quid vis? Respondit Domitilla. " Fessa sum, quod diu laboravi."


"Necesse est nobis cubiculum parare," inquit Marcia "Domina nobis hoc mandavit, qoud familiarem expectat."


" Eheu! Semper laboro. Est mihi nulla quies", inquit Domitilla.


" Puella ignavissima es", inquit Marcia. "Domina ipsa me ad te misit. Necesse est tibi cubiculum verrere. Necesse est mihi pavimentum lavare. Curre ad culinam! Quaere scopes!" Domitilla ex horto discessit et ad culinam lente ambulabat. Irata erat, quod cubiculum verrere nolebat. " Ego ornatrix sum", inquit. "Nos ornatrices nihil sordidum facinus. Non decorum est ornatricibus cubiculum verrere. Subito Domitilla consilium cepit et ad culinam quam celerrime festinavit. Simulac culinam intravit, lacrimis se tradidit. Volubilis commotus, ‘mea cokumba’, inquit,’cur lacrimas?’ ‘Lacrimo quod miseriima sum’, ancilla ei respondit. ‘Ego per totum diem laboravi. Quam fessa sum! Nunc necesse est mihi cubiculum parare. Ego non diutius laborare possum.’ ‘Mea columba, noli lacrimare!’ inquit Volubilis. ‘Ego tibi cubiculum parare possum.’ ‘Volubilis! Quam benignus es!’ Susurravit ancilla. Coquus cum ancilla ad cubiculum revenit. Diligenter laboravit et cubiculum fecit purum. Ancillla laeta dixit’. ‘Meum mei! Meum corculum!’ et coquo osculum dedit. Coquus erubescens ad culinam revenit.


Anus: Old woman; Nihil sordidum: No dirty jobs; Quid vis?: What do you want? Lacrimis se tradidit: Burst into tears; Necesse: Necessary; Commotus: Troubled, concerned; Hoc mandavit: Has given this order; Misserima: Very miserable, sad; Familiarem: Relation; Non diutius: No longer; Quies: Peace and quiet; Noli lacrimare: Don’t cry; Ignavissima: Bone idle; Susurravit: Whispered; Domina ipsa: The mistress herself; Purum: Clean, spotless; Verrere: Sweep; Mel: Honey; Lavare: Wash; Corculum: Sweettheart; Scopas: Broom; Osculum: Kiss; Lente: Slowly; Erubescens: Blushing

* Dikutip dari ‘Apud Salvium’, Cambridge Latin Course, Unit II Stage 14, hal. 6-7.

Buk! Bak! Bok!

CERPEN

Siang itu Bukor sedang asyik mengelus-elus perutnya sambil membayangkan enaknya tidur siang di domus (baca: kamar tidur). Tiba-tiba tangan kurus, kecil, kering menyambar cepat lehernya yang laksana timbunan gunung lemak itu. Pandangan bernafsu dengan mata yang seakan-akan hendak menelannya membuatnya takut setengah mati. "Bukorrr…," kata suara itu. "Tidak…," balas Bukor. "Ha… ha…ha…," suara tawa itu semakin keras. "Jangan…!" teriak Bukor lagi. "Ha…ha…ha…," suara tawa itu semakin keras. "Aku masih muda… JANGAN…!" teriak Bukor histeris bagai Tora Sudiro saat melihat Aming pakai bikini (red). "Ya…ha…ha…hei…JANGAN LARI DARI TUGAS. SEKARANG GILIRAN KITA MEMBERI MAKAN BABI!" Kejadian kemudian membuat seluruh penunggu Seminari (seminaris, red) yang sedang belepotan sabun berbalut kutang terharu dan tersentuh ketika Baker yang kurus menyeret-nyeret kaki Bukor yang meronta-ronta dan berteriak histeris, "AVE MARIA… GRATIA PLENA…"


Pelit

Dipersimpangan jalan, seorang pemuda sedang kehausan, lalu dia meminta air pada warung yang tak jauh darinya….


Pemuda : "Minta airnya sedikit Bu!"


Ibu : "Oh…air, harus bayar"


Pemuda : "Kok harus bayar sih Bu?"


Ibu : "Iya dong, sekarangkan serba bayar, masuk WC aja bayar!"


Pemuda : "Iya deh, berpa sih harganya?"


Ibu : "Oh…air dingin Rp 1000,00 dan air panas Rp 500,00"


Pemuda : "Minta air panaslah Bu!"


Namun setelah diberi air panas pemuda itu langsung sedot saja, jelas saja lidahnya terbakar. Melihat hal tersebut ibu itu bertanya…


Ibu : "Kok langsung diminum?"


Pemuda : "Nanti keburu dingin (sambil pergi)


Ibu : "?!?!?!"


 




by: Jhon Maradu, Probatorium 2006/2007



RUMAH MERTUA

Suatu kali Joni berkunjung ke rumah gurunya dengan membawa seekor tikus mati. Sampai di rumah guru….


Guru : "Joni,buat apa kamu bawa-bawa tikus mati kemari? Cepat buang sana! Dasar murid tak sopan!"


Joni : "Maaf, Pak! Awalnya saya ingin segera membuangnya! Tapi, saya akan sangat bersalah jika tak membawanya ke rumah mertuanya dulu!"


Guru : "?!?!?!?!"


 




Kaisar O Sihombing, Probatorium 2006/2007



DONOR DARAH

Wanto masih duduk di bangku SD. Suatu hari ia bertanya kepada guru agama.


Wanto : "Pak, apakah pastor-pastor itu semua ikut menjadi anggota donor darah, yach?"


Guru : "Ah, nggak. Emangnya kenapa?


Wanto : "Lha, saat misa mereka suka berkata, "Inilah darahku yang dikurbankan bagimu…"


Guru : "?!?!?"




Aluisius Lumban Gaol, Gramatica 2006/20007



Cinta Hati

Aku terhanyut dalam remang-remang
Kelabu biru, usai di janji dalam buai mimpi
t’rus lari pergi tanpa hati
Duka, lara dan iba pelengkap harapan basa-basi
Sukacita mendarah daging
dalam detakan denyut nadi
Hentak rayuan menjadi pelupuh diri
dan abaian dengungan sunyi
Menjadi ‘bisikan abadi’

Oleh: May Carlina S, Pengembara demi Cita dan Cinta

Langit Cinta

 


Ingin kumulai dari awal?


Ingin kukembali dulu?


Tapi……..


Dayaku tidak bisa


 


Kesendirianku meratapi kesedihanku


Semuanya sia-sia


Hanya langit bersamaku


Hanya bintang penerangku


Hanya bulan memperhatikanku


 


Air mata ini, kubuang dengan sia-sia


Karena tak ada harapanku


Aku hanya bisa tertunduk melihat bayangku


 


Harapan Di Tepian Bulan

Hawa dingin menusuk-nusuk kulitku


Hingga ke tulangku….


Angan-angan cinta kutenun dibenakku


Juga di relung hatiku….


 


Mataku memandang, memandang fana


Pikirku melayang, melayang ke angkasa


Semua ini menyata di malam kala


Ketika rembulan tertawai duka


 


Sepuluh menit tak terasa berlalu


Tak kurasa, mataku sembab menahan pilu


Kembali kupandang rumah roboh yang membisu


Di sana bapa mamaku terbujur kaku


 


Kini semua terhembus sudah oleh angin buritan


Asa anganku telah robek oleh taring-taring keganasan


Harapan hidup di tepian bulan


Kini tinggal kenangan, tak terlukiskan


 




Karya : Kaisar.O.Sihombing, Probatorium-A



Bergegaslah


PUISI




Dalam belenggu penghakiman yang kelam


Keluhan dan penderitaan berteriak kesakitan


Malapetaka terus membayangi


Kekacauan dan perbuatan biadab merajalela


Dalam ratap tangis dan keluhan benci


 


Perbuatan-perbuatan keji yang penuh racun


Ibarat mata air menampakkan keperkasaannya


Tak dapat lagi terkuasai


Masih adakah insane di bumi ini?


Insan berbudi luhur bijaksana?


Jawablah………!


Dengan segenap kelemahlembutanmu


Dalam naungan Tuhan


Engkaulah generasi Gereja


 


Semarakkanlah semangat yang kaku


Brilah kesegaran jiwa yang mati


Bergegaslah! God Bless Us!


 




Karya : Alnio Turnip, Probatorium 2006/2007



MENGAKTUALISASIKAN DIRI

Seorang filsuf Yunani berkata, "Pengetahuan dan pengetahuan dengan tindakan akan mengaktualisasikan diri kita". Banyak orang yang berpandangan bahwa hidup ini perlu bersaing, dan untuk itu kita butuh perjuangan dan niat yang kuat untuk mencapai niat kita tersebut.

Beraktualisasi berarti membuat diri kita betul-betul menjadi sebenarnya. Untuk menempuh kepribadian yang sebenarnya kita perlu mengetahui lebih dahulu tentang pribadi kita. Di sini kita akan diajak ke beberapa sub sebagai berikut :




A. Kepribadian



Kita hendaknya terlebih dahulu melihat dan memahami kepribadian kita. Apakah kita seorang pemaaf, pemarah atau yang lain-lain. Kita janganlah memandang diri kita sanggup untuk suatu hal yang sebenarnya tidak cocok. Cobalah untuk memahami apa yang lebih cocok untuk Anda.

B. Bakat




Kurang berbakat tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang bodoh. Jangan anda berkata, "saya mati bakat." Tidak ada kata tidak mampu seperti kata Einstein, "otak kita memiliki segalanya, tinggal kita bagaimana kita tergerak mau mencarinya." Jadi, jangan sia-siakan dirimu dengan keadaan yang memojokkanmu. Memang banyak orang yang multi bakat, namun bila kita tidak sanggup seperti mereka usaha-kan salah satu menjadi milikmu.




C. Tingkat Kreatifitas




Jangan sok pintar, sok jago, atau lain-lain. Jika kita tidak punya sesuatu yang dipandang berharga, kita bisa saja pilih bentuk pekerjaan yang diminati, namun sudahkah anda mengusahakan sesuatu itu menjadi milikmu atau menjadi suatu yang bermakna dalam hidupmu. Janganlah sok bisa atau sok mampu jika kita tak dapat melakukannya. Kita jangan terlampau berpikir menjadi orang-orang hebat dengan angan-angan yang melambung tinggi, yang akan mengakibatkan kita terjatuh dalam kesengsaraan. Suatu hal akan dipandang besar jika kita pintar membuat sensasi / ide-ide yang mutakhir terhadap barang itu.


Jadi, kita tidak akan dicap orang lagi sebagai orang yang bodoh, mati bakat, tak berpotensi. Melalui ketiga faktor tersebut kita akan dapat mencapai apa yang kita cita-citakan. Untuk itu, kita dalam mengambil sebuah peker-jaan atau memilih suatu karier semestinya memperhatikan hal-hal di bawah ini:


a. Pilihlah apa yang sesuai dengan pribadi Anda


b. Pikirkan konsekuensi dari pekerjaan tersebut, keuntungan lebih besar atau kerugian yang lebih besar


c. Pelajarilah pekerjaan itu dan cobalah memberikan suatu ide yang menunjang pekerjaan tersebut


d. Tekuni dan bersabarlah


e. Untuk memperoleh hasil yang lebih, buatlah kreatifitas sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.


Hal-hal di atas akan membantu Anda untuk mengaktualisasikan diri Anda. Percayalah jikalau Anda sudah mengaktualisasikan diri Anda, Anda akan dipandang sebagai orang yang paten. Seperti sebuah papan tulis, jika kita menuliskan sesuatu yang kurang penting, maka orang akan melihatnya kurang baik dan begitu sebaliknya.


Oleh: Marganda Purba, Syntaxis-IPS 2006/2007

Kekerasan dalam Dunia Pendidikan

OPINI


Baru-baru ini negeri kita digemparkan oleh kejadian yang mencoreng nama bangsa kita. Seorang praja dari salah satu institusi pemerintah yakni IPDN, meninggal dunia. Penyebabnya adalah tindak kekerasan dari seniornya. Nyawa seakan tak berharga di lingkungan institusi ini karena peristiwa ini bukan untuk pertama kalinya. Moralitas anak muda sekarang perlu dipertanyakan. Hal ini membuat bangsa kita meragukan kinerja lembaga pendidikan.


Apakah kekerasan pantas dilakukan di dunia pendidikan? Lalu apa sebenarnya penyebab adanya tindak kekerasan di lembaga pendidikan? Dendam, martabat, kedudukan, prestise kerap kali menadi alasan terjadinya tindak kekerasan di lingkungan pendidikan. Senior bukan lagi seorang kakak yang mendampingi adiknya,melainkan sebagai momok yang menakutkan. Tidak hanya mereka (siswa IPDN) yang pernah mengalami kekerasan. Siswa dari banyak sekolah lainnya juga pernah mengalami hal yang sama. Program MOS seringkali dimanfaatkan oleh para senior untuk menindas para siswa baru. Kesempatan ini digunakan untuk melampiaskan dendam masa lalunya. Paradigma yang salah ini menjadi alasan klasik para siswa senior untuk menindas para siswa baru. Padahal tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk pembimbingan para siswa. Pengalaman ini menyadarkan universitas-universitas maupun lembaga pendidikan lainnya. Bahkan banyak lembaga pendidikan menghapuskan program ini sebagai tindakan pencegahan.


Meskipun demikian, kekerasan ini masih saja terjadi di lingkungan pendidikan. Padahal lembaga pendidikan sebagai wadah untuk mengayomi para siswa, bukan untuk menindas para siswa. Kekerasan bukanlah suatu metode untuk mendidik siswa sebab kekerasan dapat merugikan banyak hal. Kekerasan tak hanya mengganggu organ fisik. Psikologis para siswa juga akan terganggu oleh adanya kekerasan. Kekerasan menekan psikis siswa sehingga perkembangan pendidikannya akan lambat. Tambahan pula siswa yang menerima kekerasan akan menyimpan setiap kejadian yang dialaminya di dalam memorinya. Sehingga kekerasan akan terus berlanjut seperti mata rantai yang tak pernah putus. Lebih parah lagi apabila kekerasan itu sudah mendarah daging atau sudah menjadi tradisi sehingga kekerasan tidak lagi dianggap tabu. Tradisi akan terus berlanjut apabila tidak ada tindakan yang tegas.


Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan memerlukan suatu metode yang dapat mendapat membangun moral para siswa, salah satunya adalah dengan menanamkan rasa persaudaraan. Dengan adanya rasa persaudaraan siswa akan menghargai orang lain terutama adik-adiknya. Situasi seperti ini akan menciptakan rasa aman sehingga perkembangan yang pesat akan tercipta. Para penyelenggara pendidikan pun harus tegas dalam menangani setiap tindakan kekerasan. Para penyelenggara tidak boleh menutupi tindakan kekerasan yang terjadi, karena hal ini akan membuka ruang untuk terjadinya tindak kekerasan lebih lanjut.


Ingatlah bahwa nyawa itu adalah anugrah Tuhan dan kita semua adalah saudara. Setiap orang harus berperan aktif untuk tidak menciptakan kekerasan, terutama di dunia pendidikan. Semoga!


 



Oleh: Ganda Putra Rajagukguk, Syntaxis-IPS 2006/2007

BUAT AYAH

PERCIKAN PENGALAMAN


Ketika aku menapaki panggilanku, banyak hambatan-hambatan yang besar. Langkah demi langkah kakiku kuangkat menuju titik hidupku.


Diwaktu masih kecil aku tetap dirundung malang yang begitu menyedihkan hingga aku terlarut dalam mimpiku yang sedih. Aku menangis ketika saya akan meminta uang kepada ibuku untuk uang sekolah. Ibu berkata, "sama ayahmu saja kamu minta!". Namun ayah tetap hampa dan tak berkutik karena dia telah menjudikannya. Air mata pun berlinang ketika ayah dan ibu saya bertengkar di rumah karena saya dan adik saya yang tak mau disuruh bekerja.


Memang kami tak mau bekerja karena kami berpikir, ini semua untuk ayahku. Raut muka ibuku yang yang sangat sadis membuatku bangun dari tidur. 

DEMI PANGGILAN…SEMUA KITA DIPANGGIL UNTUK….

SAJIAN UTAMA


Suka duka bersama seminaris adalah gelombang hidup yang harus dilalui. Sebagai pendamping, dalam hal ini guru, pasti sedikit banyak mengalami hal di atas. Bersama seminaris, sejuta harapan kita patri di pundak mereka. Sebagai seorang dewasa, kita bergandengan tangan dengan mereka menuju suatu panggilan. Apa panggilan mereka, sebagai guru, imam, atau….? Sebagai pendidik kaum muda, apa sebenarnya yang perlu kita lakukan, bagaimana dan mengapa? Sejumlah pertanyaan tak akan habis-habisnya hadir. Seminaris telah mengalami pasang surut, ada maju mundurnya. Pada dasarnya kedewasaan yang kita tuntut dari mereka secara utuh adalah merupakan proses berkesinambungan, tapi bagaimana kita membangun mereka secara utuh agar tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, pribadi yang menunjukkan suatu sikap yang konsisten terhadap segala tindakannya, keputusannya. Bagaimana seminaris itu berani mengambil resiko akan segala keputusannya, bagaimana mereka menempatkan diri di tengah badai gelombang hidup terhadap cita-cita dan panggilan mereka. Dari pengalaman bersama seminaris, tahap demi tahap, aneka ragam ‘uneg-uneg’ biasa kita dengar. Secara umum, seminaris masih didominasi oleh emosi dalam memutuskan suatu panggilan. Keputusan seminaris belum atas pertimbangan yang cukup matang. Seminaris cenderung pada keputusan apa adanya dan ikut pada arus teman. 

PENDIDIKAN DAN PEMBINAAN SEMINARIS KE DEPAN

RENUNGAN

Seminari Menengah dalam Sejarah Gereja

Konsili Trente dan Vatikan boleh dianggap sebagai konsili yang paling menentukan sejarah perjalanan Gereja Katolik Roma. Konsili Trente yang sebenarnya diadakan untuk mengantisipasi dan membahas gerakan Reformasi Protestan justru memutuskan banyak hal dalam bidang ajaran dan tata tertib hidup menggereja yang tidak diakui para reformator. Salah satu ajaran hakiki Gereja Katolik yang tidak diakui oleh Protestan ialah ajaran tentang sakramen Imamat. Imamat dalam Gereja Katolik tentu berkaitan dengan pembinaan sehingga seseorang pantas mendirii imamat tersebut. Seminari berada di tengah Gereja justru ada membahas persoalan imamat.


Pemahaman Konsili tentang Seminari tidak dapat dipisahkan dari ajarannya tentang imamat. Menyadari begitu penting peran imam dalam Gereja, maka perlu suatu displin, program dan langkah yang jelas bukan hanya dalam cara hidup imam tetapi juga dalam formasi atau pendidikan calon-calon imam. Dengan tepat bisa dikatakan bahwa Konsili Trente telah mereformasi pendidikan calon imam dengan mengeluarkan satu dekrit khusus tentang itu: De Reformatione yang disahkan pada tanggal 15 Juli 1563.


Konsili Trente merupakan konsili pertama yang mengaturkan untuk seluruh Gereja Katolik bahwa pendidikan imam harus melalui Seminari. Konsili melihat pentingnya kesatuan dalam hal ini; sekaligus diharapkan bahwa pembaharuan akan menghasilkan imam-imam yang tangguh dalam menghadapi dunia yang semakin bobrok dan gerakan para bidaah dan reformator. Seluruh isi dekrit tentang Seminari dalam konsili didasarkan pada upaya melindungi dan menjaga calon-calon yang masih sangat muda dari ancaman dunia dan para reformator. Oleh karena itu, para calon diisolasi dari kedua jenis ancaman itu, dilindungi dan dibentengi dalam Gereja. Dengan metode ini diharapkan bahwa calon-calon imam ini akan terbebas dari pengaruh roh duniawi dan reformator. Para calon-calon imam diharapkan menjadi manusia yang kudus, suci dan mempunyai pikiran yang jernih dari segala macam ajaran palsu sebagai seorang pejabat Gereja. Maka dengan jelas, Seminari (baik Seminari Tinggi maupun Seminari Menengah) dibentuk dalam kerangka untuk mendidik seseorang yang bercita-cita menjadi imam.


Sudah sejak dulu disadari bahwa bibit panggilan sering sudah ada dan tampak pada anak yang masih sangat muda. Sudah sejak lama (Perjanjian Lama – Kitab Samuel) seorang anak yang dipanggil dipisahkan dari orang-tuanya untuk dididik menjadi pelayan di tempat yang kudus. Pemisahan ini bertujuan untuk memupuk dan mematangkan panggilan yang sudah ada.


Yesus Kristus adalah model untuk setiap Seminaris. Dia yang adalah Allah diutus ke dunia untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia dengan mewartakan Kerajaan Allah. Sebelum melaksanakan misi luhur tersebut Yesus menjalani masa persiapan/pendidikan khusus. Sejenis Seminari: tinggal dan hidup secara tersembunyi di rumah sederhana di Nasareth. Ia mempersiapkan diri dalam doa dan pekerjaan di bawah bimbingan Allah dan orang-tuanya. Di bawah bimbingan Joseph yang penuh cinta dan kebapakan, dan kekudusan, kelembutan serta keibuan Maria, "Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Luk 2:52).


Seminari menengah harus mengarahkan dan menolong calon yang masih sangat muda untuk memahami pentingnya panggilan melalui pengalaman pribadi, dan untuk sampai pada pilihan bebas memeluk cara hidup khusus ini atau tidak. Seminari Menengah bukan terutama tempat di mana calon-calon mendapat kepastian akan panggilannya, tetapi lebih sebagai tempat untuk mempelajari tanda-tanda panggilan yang sebenarnya dengan bantuan Pembina.




Masa Depan Seminari Menengah Christus Sacerdos




Optatam Totius artikel 3, salah satu dokumen Gereja yang berbicara tentang Seminari Menengah menyatakan: Di Seminari-seminari menengah, yang didirikan untuk memupuk tunas-tunas panggilan, para seminaris hendaknya melalui pembinaan hidup rohani yang khas, terutama dengan bimbingan rohani yang cocok, disiapkan untuk mengikuti Kristus Penebus dengan semangat rela berkorban dan hati yang jernih. Hendaknya mereka di bawah bimbingan para pemimpin yang penuh kebapaan, dengan kerjasama para orang-tua yang sangat membantu, menjalani hidup yang cocok dengan usia, mentalitas dan perkembangan kaum muda, serta sesuai sepenuhnya dengan prinsip-prinsip psikologi yang sehat. Sementara itu, hendaklah diperhatikan juga pengalaman-pengalaman manusiawi secukupnya serta hubungan biasa dengan keluarga mereka. Kecuali itu semuanya, yang selanjutnya dalam dekrit ini ditetapkan tentang Seminari Tinggi, hendaknya-sejauh cocok untuk tujuan maupun metode pendidikan di Seminari Menengah-disesuaikan dengannya pula. Studi yang harus ditempuh oleh para seminaris harus diatur sedemikian rupa, sehingga mereka tanpa dirugikan dapat melanjutkannya ke tempat lain, sekiranya kemudian memilih status hidup yang lain.


Dari paparan dekrit Optatam Totius artikel 3 ini jelas terungkap bahwa hendaknya para seminaris, unggul dalam beberapa hal yakni: unggul dalam bidang intelektual, unggul dalam emosional dan unggul dalam hidup religius. Seminari Menengah Christus Sacerdos menjawab harapan Gereja di atas dalam seluruh program pembinaan dan pendidikan yang telah dilaksanakan selama ini dalam modus operandi-formation di Seminari Menengah.


Untuk menjawab isi Optatam Totius tersebut, tanggal 6-8 Pebruari 2007, Seminari Menengah menyelenggarakan Lokakarya yang khusus menggeluti arah pendidikan dan pembinaan seminaris ke depan. Dalam pergumulan ide selama 3 hari itu, ditetapkanlah arah pendidikan dan pembinaan Seminari Menengah Christus Sacerdos masa depan. Arah ini dituangkan dalam visi dan misi Seminari Menengah ke depan yang berbunyi sebagai berikut:




Visi




Seminari Menengah adalah wadah pembinaan orang-orang muda yang tampak memiliki bibit panggilan menjadi imam, untuk dibimbing menjadi pribadi yang seimbang dan unggul di bidang jasmani dan rohani, emosional dan intelektual, sehingga memiliki dasar yang kuat untuk menjawab panggilan hidupnya.




Misi




1. Meningkatkan mutu pendidikan Seminari Menengah sebagai wadah pembinaan orang-orang muda yang tampak memiliki bibit panggilan imam.


2. Membangun wawasan keunggulan sebagai etos Seminari Menengah.


3. Menciptakan dan mengembangkan kondisi yang mendukung keseimbangan unsur-unsur kepribadian.


4. Mengembangkan kegiatan rohani, kurikuler, ekstrakurikuler, lomba dan kegiatan sekolah yang relevan, konstekstual dan bermutu.


Muatan visi dan misi ini kiranya menekankan empat keunggulan seorang seminaris setelah mengalami pembinaan dalam formation Seminari Menengah yakni unggul dalam intelektual, unggul dalam emosional, unggul dalam hidup religius dan unggul dalam kepribadian.




Seminaris kiranya unggul secara Intelektual




Unggul secara intelektual maksudnya bahwa seorang seminaris mempunyai kelebihan yang sungguh signifikan dalam kemampuan intelektual bila dibandingkan dengan anak muda seusianya yang non seminaris. Seminaris hendaknya mampu menelaah, menganalisa suatu masalah. Seminaris dengan kemampuan intelektual yang mumpuni mempunyai daya pikir yang tajam, mampu belajar otodidak dll. Penyelenggara pembinaan dan pendidikan Seminari Menengah sekarang ini sungguh berupaya agar para seminaris dapat mencapai cita-cita ini. Saat ini guru-guru diberi kesempatan yang sungguh luas untuk memperdalam dan memperluas ilmu yang menjadi keahliaannya dengan mengikuti berbagai kursus, studi banding, membeli buku-buku, upgrading. Para guru dibekali bagaimana cara mengajar yang aktif dengan mendatangkan ahli-ahli pendidikan. Kurikulum diperbaharui. Guru-guru harus mampu menyusun satuan mata pelajaran sendiri. Guru-guru dituntut untuk menguasai IT (informasi dan tehknologi). Mendatangkan tenaga guru dari luar negeri bagi para murid. Seminari Menengah menyediakan fasilitas yang sangat memadai; perpustakaan buku yang cukup lengkap, laboratorium bahasa dan kimia yang cukup memadai, komputer dan internet. Guru yang kreatif akan memacu siswa juga kreatif. Semuanya ini diharapkan mampu menciptakan seorang siswa Seminari yang unggul dalam intelektual.




Seminaris harus unggul dalam emosional




Keunggulan siswa dalam emosional akan menunjang keberhasilan siswa dalam belajar dan hidup. Unggul secara emosional maksudnya bahwa siswa mampu untuk mengatur disposisi batin, siswa mampu untuk bekerjasama. Siswa yang unggul secara emosional akan mampu berdiskusi, akan mampu menerima dan menghidupi kritik, akan mempunyai daya juang yang tinggi dan pantang putus asa. Siswa yang matang secara emosional akan mampu hidup menderita, hidup dalam suasana sukacita.




Seminaris harus unggul dalam hidup religius




Hal ini memang harus menjadi satu keunggulan seminaris yang diharapkan menjadi pemimpin umat kelak. Maka dalam hal ini, seminaris mempunyai keniscayaan mempunyai nilai lebih dari yang lain. Untuk mendukung keunggulan ini, Seminari Menengah memfasilitasi siswa dengan berbagai macam kegiatan. Misa setiap hari, lectio brevis satu kali dalam seminggu, bacaan rohani, retret dan rekoleksi, latihan meditasi, kerasulan anak sekolah minggu dan doa lingkungan, pengakuan dosa, berkunjung ke tempat-tempat wisata rohani, menulis refleksi harian. Melalui seluruh kegiatan ini, siswa diharapkan akan mempunyai rasa religius yang tinggi. Keunggulan ini tampak dalam rasa empati yang tinggi, pengorbanan terhadap orang lain, kemauan untuk saling meneguhkan dalam panggilan, keterbukaan untuk berbagi hidup, kemampuan untuk mensyukuri, sikap ikut serta menderita bersama teman.


Ketiga dimensi keunggulan ini harus seimbang dalam hidup Seminaris sehingga Seminaris akhirnya unggul dalam kepribadian. Inilah mimpi Seminari Menengah ke depan!!!! Semoga cita-cita ini semua tidak hanya mimpi tetapi menjadi sebuah kenyataan. Dengan ini diharapkan Seminaris mampu menjadi pemimpin yang unggul, visioner, pemimpin yang saleh di masa depan. Gereja pun akan semakin jaya bila pemimpinnya dapat diandalkan!


 


Sdr. Venantius Qwei, Staff Seminari Menengah

Selasa, 05 Juni 2007

Siswa Seminari 2007/2008

Probatorium A


Probatorium B


Probatorium C


Grammatica A


Grammatica B


Syntaxis IPA


Syntaxis IPS


Poesis IPA


Poesis IPS


Rhetorica