Selasa, 12 Desember 2017

Cerpen Lembaga Edisi Juli-Desember 2017

Cerpen
Usaplah Air Matamu Dengan Ujung Jubahku

            Angin musim kemarau merontokkan daun-daun cemara yang sudah kering. Suaranya mendesau-desau. Pojok halaman Seminari St. Pertus terasa semakin lengang. Aula pun sudah sepi ditinggalkan para tamu dan undangan serta kerabat para Diakon yang ditahbiskan hari itu. Ada enam orang Diakon yang menerima tahbisan dari Bapa Uskup.
            Primus Sihotang, satu dari antara enam Diakon, baru saja melepas keluarganya di pintu gerbang Seminari. Masih mengenakan alba, ia langsung menuju pojok halaman. Di atas kursi panjang, Jesika sudah menunggunya sedari tadi. Gadis itu pura-pura tidak melihat kedatangan lelaki itu.
            “Maaf, harus menunggu lama.” Kata Primus, panggilan akrab diakon tadi. Jesika menoleh. Ia mencoba tersenyum. Tetapi, senyumnya tampak hanya basa basi saja.
            “Datang sendiri? Ibu kok gak diajak?” Tanya Primus sambil duduk di samping gadis itu.
            “Untuk apa?”  Tanya Cika, panggilan akrab gadi itu.
            “Ibumu pernah berjanji untuk dating di hari bahagia ini.”
            “Siapa yang bahagia?” Tukas Cika cepat. Pertanyaan itu sepertinya sudah ia persiapkan sejak lama. Ia simpan di dalam hatinya. Lalu, ia meletakkannya di ujung lidah. Kini saat yang tepat untuk ia luncurkan, ibarat rudal Korea Utara yang siap menghancurkan dunia kapan saja.
            Primus terhenyak. Ia tidak mengira akan ditusuk dengan pertanyaan itu. Siapa yang bahagia?
            “Ibu pernah bercerita padaku. Sebenarnya ia punya harapan lain. Ia tidak akan pernah datang kemari dalam peristiwa seperti ini. Sebab, Ibu selalu berharap peristiwa ini tidak akan pernah terjadi!”
            Primus menghela nafas. Angin kemarau semakin kering. Rimbunnya pohon bugevill serta cemara di depan mereka tidak mampu memberikan kesejukan. Celotehan frater-frater lain dari kejauhan pun tidak ia hiraukan.
            “Empat tahun aku berharap, lalui semua ini sia-sia. Haruskah hari ini aku mengubur harapan ini? Semudah itukah aku melakukannya? Rasanya sakit sekali.” Ucap Cika dengan suara serak. Matanya sembab. Ia buru-buru mengambil tissue dan mengusap air matanya yang hamper meleleh.
            “Bukannya saya sudah minta maaf berkali-kali? Haruskah aku mengulanginya lagi? Berapa kali lagi aku harus mengucapkannya Cika?” Tanya Diakon Primus.
            “Apakah permintaan maaf bias langsung membunuh harapanku? Tidak adakah kata lain selain per,imtaan maaf?” Tukas Cika cepat.
            “Saya harus katakana apa? Atau saya harus berbuat apa untuk menjelaskan semuanya ini?” Hardik Diako Primus tak mau kalah.
            “Bukankah sejak awa; sudah kukatakan, jika harus memilih, maka jalan panggilan inilah yang harus saya pilih. Sejak saya jadi putra altar, saya sudah bermimpi, suatu saat nanti saya akan memimpin Ekaristi. Dan saat itu sudah dipelupuk mata.”
            “Kau egois, hanya keinginanmu sendiri yang kau utamakan!”
            “Apakah saya harus mengutamakan keinginan orang lain? Ini tidak realistis. Semua orang pasti mengutamakan cita-citanya sendiri. Setelah terwujud, baru ia akan membantu mewujudkan keinginan atau cita-cita orang lain. Hal iru wajar. Tidak ada kaitannya dengan egoism seseorang.”
            Tak kuasa mendengar Primus, Cika menelan ludah. Rasanya pahit sekali. Baginya kata-kata yang keluar dari lelaki disampingnya itu ibarat jamu terpahit yang dipahsa untuk ia makan. Mau tidak mau harapannya untuk mengajak lelaki itu hidup wajar sebagai seorang awam pupus sudah. Mimpi-mimpinya untuk duduk bersama di pelaminan sebagai pasangan yang berbahagia kandas. Semua jalan untuk dirinya sepertinya sudah tertutup rapat-rapat. Semua pintu sudah digembok dan diberi palang. Ia tidak mungkin lagi membuka pintu hati lelaki itu dan tinggal di dalam.
            Angin kemarau yang semakin merontokkan daun-daun cemara kembali bertiup. Seminari benar-benar sudah sepi. Begitu juga lorong-lorong yang menghubungkan kamar-kamar penghuninya. Tidak ada lagi terdengar sayup-sayup celotehan para frater.
            Cika benar-benar menangis. Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Kalau boleh, ia mungkin akan menjerit sejuat-kuatnya untuk melepas beban di hati. Tiba-tiba, muncul kenangan dua tahun lalu di benaknya. Ketika itu, Cika berlatih di aula Seminari bersama teman-teman sefakultasnya. Mereka akan mengadakan pementasan bersama para frater dengan lakon Romeo dan Juliet. Kebetulan, Jesika dipilih menjadi Juliet dan Primus dipilih sebagai Romeo.
            Ah….. Betapa asiknya orang dimabuk cinta. Betapa bangganya mendapat pujian dan sanjungan dari lelaki yang dicintai. Meski hal itu hanya sebuah lakon, namun jauh di lubuk hatinya Cika sungguh menikmati. Berminggu-minggu berlatih, berminggu-minggu pula ia mencoba membangun batu pondasi. Di atas pondasi itulah ia ingin membangun rumah cinta. Tempat ia dan seisi rumahnya menghabiskan waktu penuh canda ria. Bersama lelaki yang ia cintai, bersama anak-anak yang mereka sayangi, rumah cinta itu membunuh ular jelmaan setan untuk mempertahankan rumah cinta itu jika sewaktu-waktu hewan jelata itu dating menggodanya.
            Tetapi, fondasi dan rumag cinta itu hancur dan runtuh hari ini. Batu dan gentengnya berserakan dimana-mana. Ternyata fondasi itu ia bangun di atas pasir mimpi.
            “Apa yang harus kulakukan sekarang?” Tanya Cika dengan suara serak.
            “Hari-harimu masih panjang. Duniamu masih terbentang luas. Kamu masih bias membangun mimpi-mimpi indah. Kamu cantik dan cerdas. Aku yakin banyak pemuda yamg mencintaimu lebih dari aku.” Hibur Primus.
            “Percayalah, kau dan keluargamu nanti akan menjadi bagian doa-doa pribadiku. Bila perlu aku akan dating untuk memberkati pernikahanmu nanti Cika. Percayalah, segala sesuatu yang manis tak akan saya buang dan lupakan, meski saya tidah bias memiliki dan melihatmu setiap hari.”
            “Frater.” Pekik Jesika akhirnya. Ia tak bias lagi membendung air matanya. Gadis itu hanya diam. Sebisa-bisanya Diakon Primus menahan diri agar tidak larut dalam pusaran emosi Jesika.
            “Ya mwnangislah sepuas-puasnya Cika.” Kata Primus dengan suara parau.
            “Sya harap, imi adalah tangismu yang terakhir. Karena itu, usaplah air matamu dengan ujung jubahku. Anggaplah itu sebagai tanda bahwa engkau akan menghapus mimpi-mimpi indahmu akan diriku. Mimpikanlah diriku dalam posisi sekarang. Mimpikan aku sebagai gembala umat.” Ucap Diakon Primus sembari mengelus rambut gadis itu.
            Cika menoleh. Ia mengangguk. Tangannya dengan cepat menarik ujung alba itu. Dengan pelan ia mengusap air mata miliknya.
            “Terima kasih frater. Sekarang aku merasa bahagia sekali. Sungguh aku tidak akan melupakannya seumur hidup.”
            Lalu gadis itu menyahut tangan Diakon Primus. Ia cium tangan itu dengan rasa hormat. Tanpa menoleh lagi Jesika meninggalkan Seminari. Sebuah taxi melaju lambat. Ia pun menumpang taxi itu untuk pulang ke rumahnya.
            Diakon Primus kembali duduk di kursi panjang taman itu. Ia sangat merasa lega karena cobaan terakhirnya telah ia lewati. Kini, dengan semangfat yang membara Diakon Primus mempersiapkan diri untuk tahvisan imamat yang telah menunggunya pada bulan Desember nanti.
*By:Primus K. Sihotang
Grammatica_IPS 2017-2018






SENYUM SAPA SEDERHANA DI GERBANG MASUK

Ibu Sora tak pernah berpikir bahwa ia akan menjadi seorang chef di sebuah restoran ternama di Jawa Barat. Saat SMA, Ibu Sora selalu diejek temannya karena tidak tahu memasak.
            Suatu hari saat SMA kelas 3, teman-teman Ibu Sora berkunjung ke rumahnya. Saat itu, tidak ada makanan apapun yang mau dibagikan. Karena itu, Ibu Sora berusaha memasak mie instan yang kebetulan selalu tersedia di dapur apabila tidak ada makanan yang dimasak ibunya. Saat teman-temannya asyik ngobrol di ruang tamu, dengan usaha yang melebihi prajurit semut mengangkat makanan, Ibu Sora hampir selesai menghidangkan mie instan tersebut. Namun Ibu Sora tidak mencicipi mie instan itu sebelum ia memberi pada teman-temannya. Saat itu adalah saat perdana bagi Ibu Sora memasak makanan. Orang yang selama ini memasak adalah ibunya. Dengan rasa malu, Ibu Sora memberi makanan itu pada teman-temannya yang saat itu sudah bosan menunggu Ibu Sora yang terlalu lama memasak. Namun, dengan senyum indah Ibu Sora, rasa malu itu seakan-akan hilang saat memberi mie instan itu.
            Sebelum menyantap hidangan, sebagai umat beriman, terlebih dahulu mereka berdoa yang dipimpin oleh Rosa,teman sebangkunya. Ketika doa selesai, mereka langsung menyantap mie instan itu. Ketika suapan pertama masuk ke mulut teman-temannya, dengan penuh rasa kecewa,mereka langsung memuntahkan mie instan itu tanpa menjaga perasaan Ibu Sora. Senyum manis Ibu Sora yang tadinya dapat menutupi rasa malu, kini tidak dapat dielakkan lagi. Ibu Sora harus menerima kenyataan itu. Sebab mulut teman-temannya Ibu Sora seperti sedang diguyur hujan asam.
            “Sor, kamu tak tahu masak, ya?” tanya Rosa dengan nada mengejek.
            “Ha, umur 17 tahun gak tahu masak?” tanya Piya memanaskan suasana.
            “Hahahahahaha” tawa kedua temannya mengejek Sora.
            Sora pun terdiam seperti paku yang ditokok oleh palu yang tak dapat mengelak keluar.
***
            Mengingat kejadian di masa SMA itu, Ibu Sora selalu tersenyum manis dengan senyum yang tidak berubah. Apalagi dengan profesinya sebagai chef di restoran ternama. Ibu Sora merasa sangat bangga karena sesuatu yang membuat ia ditertawakan teman-temannya ternyata tidak lagi bahan tertawaan, tetapi menjadi suatu kebanggaan yang luar biasa.
            Sejak kecil, Ibu Sora dikenal sebagai pribadi yang baik. Suka tersenyum dan suka menyapa. Tak heran jika sampai umur 34 tahunm Ibu Sora sudah terbiasa dengan hal itu. Di umurnya yang 34 tahun, Ibu Sora hidup dengan suaminya Reza 36 tahun dan sepasan anak yaitu Riyun dan Viola. Keluarga Ibu Sora dikenal warga setempat adalah keluarga yang rukun, santun, peduli, dan ramah. Setiap di luar rumah, keluarga Ibu Sora selalu menyapa orang yang mereka lihat atau jumpai.
            Senyum sapa yang sangat melekat, membuat keluarga Ibu Sora dipuji banyak orang, sebab zaman sekarang ini, jarang dijumpai keluiarga seperti keluarga Ibu Sora. Selain itu, kedamaian pun selalu menghiasi keluarga Ibu Sora.
***
            Kring…kring…kring… Bunyi alunan yang setiap pukul 04.45 WITA berbunyi adalah nasihat yang keras untuk memulai pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Senin pagi yang dingin menemani aktifitas Ibu Sora memasak untuk sarapan pagi suami dan anaknya. Setiap pagi, aroma masakan Ibu Sora selalu mengganggu tidur suami dan anak-anaknya. Selain aroma yang wangi, kelezatan masakan Ibu Sora selalu dirindukan. Sehingga tak heran kedua anaknya selalu membawa bekal ke sekolah.
            Berhubung ini hari Senin, Riyun dan Viola pergi lebih awal ke sekolah. Karena mereka tidak bisa makan pagi bersama berhubung ada upacara di sekolah. Sebelum berangkat, Riyun dan Viola berdoa di sebuah ruangan kecil di dekat kamar mereka. Ruangan itu juga selalu dipakai oleh keluarga Ibu Sora untuk berdoa pada saat tertentu atau doa pribadi.
            Selesai berdoa, Riyun dan Viola langsung bergegas ke halaman rumah dimana ayah mereka telah menunggu. Riyun dan Viola adalah anak yang baik, sopan, dan ramah seperti orang tua mereka. Maka mereka tidak pernah lupa pamit. Keramahan yang selalu orang tua Riyun dan Viola ajarkan tak pernah terlupakan dari benak mereka. Karenanya setiap berangkat sekolah mereka selalu menyapa tetangga dengan senyum indah yang diturunkan ibu mereka.
            Ketika Pak Reza berangkat dengan anaknya, Ibu Sora tersenyum senang melihat anaknya tumbuh dengan ajaran baik mereka. Saat hendak memasak ke rumah, Ibu Lita tetangga ibu Sora berkata
            “Syukur ya bu punya anak baik dan ramah seperti Riyun dan Viola”
            “Iya bu, saya sangat senang” jawab Ibu Sora dengan senyum yang selalu menarik perhatian. Mendengar pujian ibu Lita, Ibu Sora langsung berterima kasih kepada Tuhan atas anugerah terindah yang ia miliki.
            Hari Senin adalah hari yang menyenangkan bagi Ibu Sora, sebab khusus hari Senin, restoran tempat ia bekerja hanya buka sampai pukul 19.00 WITA. Ibu Sora juga harus sudah tiba pukul 09.00 WITA. Setiap hari Ibu Sora selalu berangkat bersama dengan suaminya. Kebetulan tempat kerja Pak Reza searah dengan tempak kerja Ibu Sora. Ibu Sora juga dikenal dengan ketepatan waktu yang selalu ia jaga. Maka, pada pukul 08.30 WITA, ia sudah tiba di restoran tempat ia bekerja.
            Restoran tempat Ibu Sora bekerja dikelilingi oleh tembok tinggi dan juga ada satpamnya. Pak Tagor adalah satpam yang sudah 10 tahun bekerja dan 2 tahun lebih muda dari Ibu Sora yang sudah bekerja selama 12 tahun.
            Di restoran, Ibu Sora dikenal dengan orang yang ramah, baik, disiplin, mudah senyum. Kelihatannya, kebiasaan itu adalah hal yang selalu dirindukan setiap orang termasuk Pak Tagor. Suatu hari, Pak Tagor pernah merasa kekurangan dalam hidupnya saat ia bekerja. Saat itu Ibu Sora sedang sakit dan tidak masuk kerja. Kekurangan yang Pak Tagor rasakan adalah senyum sapa Ibu Sora yang selalu dilontarkan kepada Pak Tagor. Selain mau masuk, Ibu Sora juga melontarkan senyum sapanya ketika mau pulang. Pak Tagor selalu merasa dihormati oleh senyum Ibu Sora.
            Suasana restoran di hari Senin begitu ramai. Restoran selalu penuh dengan pelanggan. Selain menu yang enak, restoran juga dihiasi dengan dekorasi indah yang diganti tiap akhir pekan.
            Ibu Mina adalah pemilik restoran indah itu. Ibu Mirna dikenal dengan orang yang tegas. Ibu Mirna sangat bangga mempunyai Ibu Sora di restoran. Sebab, berkat Ibu Sora, restoran selalu penuh. 
            Semangat Ibu Sora yang selalu membara membuat rekan kerjanya heran dan salut terhadapnya. Meski para pelanggan banyak, Ibu Sora tetap semangat.
            “Ibu Sora selalu terlihat semangat ya.” Singgung Pak Kardi rekan kerjanya membuka dialog saat istirahat.
            “Iya Pak. Saya juga heran mengapa saya seperti ini.” Jawab Ibu Sora dengan senyum halilintarnya.
            “Ibu kok bisa seperti itu? Bahkan hanya ibu yang selalu semangat.”
            “Saya hanya menikmati pekerjaan ini kok pak”
            “Oh ya? Saya jadi sangat salut padamu. Beruntung Ibu Mirna dapat orang sepertimu.”
            “Bapak bisa aja” balas Ibu Sora dengan senyum sederhana.
            Istirahat 30 menit pun selesai dengan stamina yang telah kembali. Pekerjaan pun kembali dimulai. Setiap hari Ibu Sora dan rekannya selalu bekerja dengan foto pendahuluan yang menghiasi dapur dan sebuah ruangan bersuhu 00C dekat pintu masuk dapur yang berisi daging untuk memenuhi menu utama restoran.
            Pesanan yang begitu banyak, harus membuat Ibu Sora mengambil daring dari ruangan dingin itu. Namun Ibu Sora tak cukup kuat untuk menangkat daging yang massanya 30kg. sehingga Ibu Sora harus meminta bantuan Pak Kardi. Saat menangkat daging itu, cincin Ibu Sora lepas dari jari manis kirinya. Ibu Sora tak menyadari hal itu.
            Jam sudah menunjukkan pukul 18.30 WITA dan restoran sudah kosong sebab para pelanggan sudah tahu bahwa restoran tutup pukul 19.00 WITA. Ketika beres-beres di ruang ganti pakaian, Ibu Sora baru sadar bahwa cincinnya tidak ada lagi di jari manis kirinya. Ibu Sora lantas langsung mencarinya. Setiap sudut ruangan telah digeledah Ibu Sora. Namun tidak membuahkan hasil yang baik. Namun, 1 ruangan belum Ibu Sora geledah yaitu ruangan dingin bak salju.
            Ketika rekan kerja Ibu Sora sudah pulang, Ibu Sora harus mencari cincin itu sampai dapat. Karena cincin itu adalah cincin pernikahannya. Selain memasak, Pak Kardi juga bertugas untuk menutup ruangan es itu sebelum pulang. Ruangan ekstrim itu pun ditutup tanpa memeriksa ruangan itu. Sehingga, ruangan itu pun dikunci dengan Ibu Sora di dalam. Sebab Pak Kardi merasa bahwa semua sudah pulang. Setiap pulang kerja, Ibu Sora adalah orang yang pertama pulang dan biasanya Ibu Sora menyapa Pak Tagor dengan senyum halilintarnya.
            Selain tugas sebagai satpam, Pak Tagor juga bertugas menutup dan membuka restoran. Saat hendak menutup restoran, Pak Tagor merasa ada hal yang kurang. Kekurangan itu sama seperti kekurangan ketika Ibu Sora sakit, yakni kerinduan akan senyum sapa dari Bu Sora yang belum ia dapat sore itu. Hal itu menjadi pertanyaan bagi Pak Tagor. Sebab, tidak pernah Ibu Sora telat pulang. Hal itu mengundang Pak Tagor untuk mencarinya ke restoran.
Segala sudut-sudut ruangan telah digeledah Pak Tagor namun sama sekali tidak membuahkan hasil yang baik. Pak Tagor menyerah dan Pak Tagor selalu dihantui dengan pertanyaan mengapa senyum sapa Ibu Sora belum juga muncul. Pak Tagor mencoba menghubungi rekan kerja dan suami Ibu Sora, ternyata Ibu Sora belum pulang. Semangat Pag Tagor kembali muncul.
            “Tolong…tolong…” Suara itu terdengar dari dapur dengan nada yang sangat lembut. Pak Tagor dengan sigap mencari suara itu. Ketika sampai pintu dapur suara itu menghilang. Pak Tagor membuka pintu dapur namun tidak ada siapa-siapa.
            “Tolong” suara itu muncul lagi di ternyata suara itu berasal dari ruangan es yang bersuhu ekstrem. Dengan cepat Pak Tagor langsung membuka ruangan ekstrem itu. Pak Tagor terkejut tercengang-cengang melihat Ibu Sora tergeltak di lantai dengan wajah yang sangat pucat dan tidak sadar. Pak Tagor langsung mengangkat Ibu Sora dan membawanya ke rumah sakit terdekat.  Dengan kepanikan tingkat dewa, Pak Tagor mencoba menghubungi Pak Reza, namun tidak ada respon.
Sesampai di rumah sakit, kepanikan pak tagor semakin merajalela. Handphone pak Tagor berbunyi  dan itu adalah panggilan dari suami ibu sora. Seplang kerja, pak Rezaz langsung ke Rumah Sakit.
            “Ada apa, Pak? Apa yang terjadi?” Tanya pak Reza panik.
            “Ibu Sora pingsan, Pak. Dia terkurung di ruang es penyimpanan daging.” Dengan wajah pucat, takut dituduh
            “Kok, bisa?”
            “saya juga idak tahu, Pak.”
            Suasana semakin tegang keika dokter muncul.
            “Dok, bagaimana keadaan istri saya?” Tanya pak Reza panik.
            “Istri bapak hampir saja kehilangan nyawa”, jawab dokter degan panik juga, “Istri bapak harus dirawat dengan baik selama beberapa hari ini.”
            “Siapa yang membawa aku ke sini?” Tanya ibu Sora lemas.
            “Pak Tagor yang membawamu ke sini”
            “terima kasih banyak, Pak. Jasamu sungguh berharga.”
            “Sebenarnya ini semua berkat senyum, sapa, dan salam ibu Sora. Kalau misalnya ibu Sora tidak menyapa aku dengan senyum sederhanamu, mungkin ibu tidak akan selamat. Sebab tadi, saya kurang mendengar senyum sapa dari ibu. Saya jadi bertanya-tanya, kemana ibu Sora, kok tidak ada sapa salamnya?”
            “Bapak bisa aja”, jawab ibu sora dengan tersenyum.

            Sejak saat itu, pak Tagor banyak belajar dari ibu Sora. Bahwa senyum, salam, sapa yang sederhana sangat memiliki makna yang sangat berharga. Sederhana tetapi sangat berpengaruh.
     
*By: Brada Sidabutar
Syntaxis IPS 2017-2018




 JUBAHKU ADALAH RESTUMU
         
            Murni kasih setia-Nya, kurasakan dalam hidup ini. Indah hidup ini saat kurajut jalan kasih di dalam kehendak-Nya. Dinamika kehidupan kini telah terlewati indahnya. Adakalanya mimpi itu akan tertanam. Sebuah konsekuensi harus dihadapi. Aku memang berani, tapi apalah dayaku, diantara mereka berdua.
            Sejuk cerah perjalananku menapaki taman ini. Aku sungguh merasakan kemegahan kuasa Ilahi lewat ciptaan-Nya di dunia ini. Sang khalik ysng sungguh baik. Ia menganugerahkan sebuah rahmat yang tidak dimiliki insan di tanah tercinta ini, sebuah rahmat panggilan. Cinta, cita, rasa. Semua terkumpul menjadi satu, kala kurasa gema suara-Nya mendekap dalam batinku. Ingin rasanya selalu bersama-Nya. Berjalan bersama-Nya dan dikuatkan oleh-Nya. Suara-Nya sungguh menggema lembut di dalam sanubari, tapi mengapa selalu ada batu kasar yang mewarnai kelembutan itu. Aku hampir terjatuh.
            Kubangun secercah harapan sebagai modal awal di pagi yang cerah ini. Sang surya, kian tersenyum melihat perangai wajahku menunjukkan keriang-riangan. Sinar berkas cahaya menerobos celah dinding istana keluargaku yang amat penuh sejarah ini. Kulihat asap mengepul gelap menutupi rongga tengah rumah ini. Aku langsung paham betul situasi ini, kalau begini bunda sedang menyulap bahan dari ladang untuk menjadi sumber tenaga bagi keluarga pada hari ini. Kucoba mendekat pada bunda. Aku melihatnya berusaha kuat menjaga si jago merahagar tetap kuat di pangkuan priuk. Aku memanggil bunda dengan pelan. Bunda tidak memberikan sahutan sedikitpun. Tidak biasanya bunda begini. Anaknya yang telah berbulan-bulan di ranah jauh. Tidak dihiraukannya sama sekali. Muncul tanda tanya besar dalam jiwa. Aku berbalik haluan, aku mencari ayahanda. Harap. Harap menemukan secercah jawaban darinya.
            “Ayah, mengapa bunda begitu?”
            “Begini anakku, bundamu telah lama menahan niatnya untuk melarangmu menjadi seorang pelayan di kebun anggur-Nya. Apalagi setelah ia menerima sepucuk surat dari petinggimu dari gedung putih itu, ia tidak merelakanmu, Anakku.”
            Tubuh ini hanya bisa terbujur kaku mendengar ucapan itu. Aku merasa akulah orang yang tiak memetik makna dari sekian perjalanan panjang yang kulalui. Aku bertanya-tanya dalam hati, jadi apa gunanya perjuangan selama ini? Jika ini memang yang akan terjadi. Mengapa sungguh pahit dari semua awal yang akan kutempuh ini?
            Serasa jiwa tidak puas, aku kembali menemukan ibunda. Kini kumulai berbicara bak udara yang mengalun tenang. Aku menemui ibunda pada momen yang sungguh tepat. Sore hari di beranda rumah ini, mata ini terpaku pada seorang wanita paruh baya yang sedang menyelesaikan sesuatu. Ibunda. Ibunda yang selama ini kukenal selalu memberi sebua harapan yang membuatku semangat dalam menjalani hidup. Aku memberanikan diri untuk mengeluarkan curahan hatiku
            “Bunda, apakah restu bunda masih kudapat sampai sekarang ini?” Ucapku mengalir pelan.
            “Anakku, John, dulu ibunda memang sangat mendukungmu untuk mengambil bagian dari pelayan-Nya., namun rasanya hal itu tidak membuat hati ibundamu tenang. Kembalilah, Anakku!” Ucap ibunda memohon.
            Kembali tubuhku terbujur kaku mendengar ajakan bunda yang menurutku bukan jalan yang terbaik. Kini aku merasa tidak mampu untuk mengucapkan apa- apa lagi. Aku hanya tertunduk diam dan lesu. Semangat yang menggelora seketika disiram, sehingga membuat semangat itu, seakan-akan menjadi pupus. Aku berpikir sejenak, mungkin inilah saatnya menjadi seorang pemberontak. Mungkin batin berkata kalau tidak baik melakukan seperti ini, tapi apa daya, situasi yang membuatnya baik untuk melakukan ini. Aku lantas meninggalkan ibu tanpa mengucap sepatah katapun. Aku tidak mau mengambil resiko apapun. Mungkin aku akan menunjukkan jalanku sendiri. Mungkin, ini adalah hal yang gegabah, tapi apa boleh buat, ini adalah jalan yang terbaik menurutku. Sehelai kertas menjadi ucapan terakhirku bagi penghuni istana keluargaku ini. Aku menulis kalau aku tetap melanjutkan jalan yang mulia ini, walau tidak ada restu dari ibu. Aku sempat menuliskan “Semoga keluarga kita selalu berbahagia” di penghujung tulisanku di sehelai kertas itu. Aku harus memulai hidup baru, harap. Harap jubah yang akan kukenakan nanti menjadi sebuah doa restu dari orang yang melahirkanku ke dunia yang fana ini
            Memang kuakui perasaanku masih sangat kacau balau walau dihantam badai cercaan yang tidak mampu diredam oleh diriku. Langkah ini beradu kuat untuk menapaki jalan yang telah disediakan-Nya bagiku. Kutahu, dukungan dari keluargalah yang utama menjadi sebuah modal untuk merajut mimpi dalam dunia panggilan ini.

            Now, I know, if my vocation is mystery

            Perjuangan berlipat ganda membuat diriku semakin mahir dalam meretas semua tantangan yang ada. Beberapa tahun sudah terlewati. Susah getir, manis gemawan panggilan inimenjadi santapanku setiap harinya. Gelar frater menjadi embel-embel di depan namaku, kala tergores dalam secarik kertas atau sebutan dari saudara- saudari di sekitarku. Tidak terasa kini diriku semakin serius dalam panggilan ini. Pater Magister sempat bertanya padaku perihal orangtuaku dan seluk beluk keluargaku. Bibir ini pun dengan lihainya menjawab secara manis
           

            Hari cerah yang ditunggu pun sudah tepat berada di peraduannya. Kini kuberusaha untuk sanggup berdiri di depan sang Ilahi mewujudkan suatu tekad. Kuberbisik dalam hati semoga Allah Bapa menguatkanku untuk mampu  hidup murni untuk-Nya selama-laman-Nya. Taat pada hukum-Nya, ditambah lagi aku berbaur dengan keberagaman umat pilihan-Nya. Tapi, satu yang membuat batinku sontak terkejut, dikala mata ini beradu pada dua sosok wajah yang sangat familiar dalam hati dan ingatanku. Ayahanda dan ibunda. Merka membuat hati ini semakin bergelora untuk menuju kepada-Nya. Senangnya hampir tidak terperi. Ibunda berlari memelukku. Linang air mata membasahi keriput yang mempunyai  cerita. Kemisterian panggilan hidup sungguh kurasakan pada hari ini. Keluarga yang indahlah yang membuatku semakin paham kemisteriaan panggilani ini. Aku merasakan air mata ibu membasahi jubahku. Kuyakin air mata ibu adalah sebuah kebahagiaan. Kini air mata itu telah melekat pada jubah pelayanan ini dan menjadi modal untukku agar tetap setia selamanya.



 Kasih, Kesetiaan, Percaya dan mengandalkan Tuhan. (Amsal 3 : 1-26)







   *By: Andri Saragih
Poesis_IPS 2017-2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar