Selasa, 12 Desember 2017

Opini Lembaga Edisi Juli-Desember 2017

Opini
3 S Ala Omjes
      
            Banyak orang tidak menyadari bahwa kesederhanaan mampu membawa kebahagiaan. Kebahagiaan itu muncul dari suatu tindakan kecil tapi berdampak besar. Orang sering kali terpaku dengan hal- hal inti yang menjurus pada keyakinan bahwa akan mendapat kepuasan. Kita sering terfokus kepada hal yang besar, namun mengabaikan hal- hal kecil yang sebenarnya berguna.
            Dalam budaya kita di Indonesia, kita dididik untuk mengucapkan 3 kata sederhana namun dapat menjadi kata sakti yang menarik perhatian orang lain. 3 kata sakti ini dapat membuat kita semakin kompak dan memiliki hubungan yang erat dengan sesama. Nah, apa 3 kata itu? Ketiga kata yang dimaksud adalah senyum, sapa dan salam.
            Ketiga kata tersebut memang sederhana. Tapi siapa sangka, di balik kesederhanaan itu, tersembunyi kekuatan ajaib yang memengaruhi emosi banyak orang. Saat anda menyapa seseorang misalnya, otomatis orang yang anda sapa akan balas menyapa anda jika dia masih waras dan masih manusia. Nah, ternyata dibalik ketiga kata tersebut, ada 3 makna yang tidak pernah disadari oleh orang lain. Ketiga makna tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Tolong
Manusia tidak dapat hidup sendiri. Pernyataan itu berarti setiap individu membutuhkan bantuan orang lain dalam kehidupannya. Ketika anda kesulitan mengerjakan tugas matematika misalnya, tentu anda akan meminta bantuan orang lain yang lebih mengerti daripada anda. Nah, bagaimana anda memintanya? Apakah anda memaksa? Tentu tidak. Dalam hal inilah 3 S mengambil peranan penting. Kata tolong diucapkan bukan hanya pada saat genting, namun juga menunjukkan kerendahan hati dan keramahan.

2.      Maaf
Biasanya kita meminta maaf pada saat kita berbuat salah, menyesalinya, dan berniat untuk tidak mengulanginya. Maknanya hampir sama dengan kata tobat. Namun, dalam meminta maaf kita juga tidak boleh sembarangan. Karena itu, senyum, sapa, dan salam sangat dibutuhkan. Jika anda meminta maaf dengan menerapkan prisip 3S, maka orang yang anda mintai maaf akan luluh hatinya dan memaafkan anda. Misalnya, saat anda berjanji kepada teman namun mengingkarinya. Tentunya, teman anda akan marah dan apa yang harus anda lakukan? Ada baiknya jika anda  berkata maaf dengan sedikit senyuman menyesal.

3.      Terima Kasih
Kata terima kasih merupakan kata yang sangat sering diucapkan. Namun, siapa sangka bahwa dibalik ucapan terima kasih sebenarnya terdapat prinsip 3S. Ketika anda meminta uang jajan kepada orangtua, apakah anda menucapkan terima kasih? Ucapan terima kasih mengungkapkan sapaan anda. Dengan mengucapkan terimakasih, anda memberi salam dan menghargai orang lain serta bersyukur atas apa yang ia berikan kepada anda. Kita menerima kasih dari orang lain lewat sapa dan salamnya. Nah, sekarang sebagai balasannya, kita perlu mengucapkan terima kasih.

Sebagai seminaris, ketiga kata sakti ini sebaiknya dibudayakan di Seminari. Kita yang hidup bersama dalam lingkungan yang sama sebaiknya membangun persaudaraan dengan prinsip 3S. Bukan hanya sesema teman atau angakatan saja, namun relasi lintas angkatan. Keramahan dan saling menghargai akan tercipta melaui budaya senyum, sapa, dan salam. Keramahan dan rasa saling menghargai adalah buah dari persaudaraan sejati. Hal itulah yang akan membentuk kualitas Seminari.
Sebenarnya, bukanlah hal yang sulit bila kita menerapkan hal tersebut. Yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah kita mau dan menebar senyum kebahagiaan bagi banyak orang? Apakah kita sudah menyapa teman, saudara atau orang lain di Seminari? Atau kita hanya terpaku pada kata senioritas?

      *by: A.F. Domas Purba 
Syntaxis_IPS






RUKUN BERARTI SENYUM, SAPA & SALAM
         
            Senyum? Apa susahnya? Tidak ada ruginya, tidak ada efek sampingnya, dan tidak susah melakukan hal itu. Tapi mengapa? Mengapa banyak orang pelit berbagi senyuman bagi sesamanya? “The magic of smile”, pernahkah anda mendengar atau membacanya. Keajaiban dari sebuah senyuman, percayakah anda akan hal itu? Banyak orang tidak tahu bahwa senyum yang sederhana itu memiliki keajaiban. Simple, namun memiliki keindahan yang mampu membuat orang lain ikut bergembira melihat kita yang menebarkan senyuman bagi semua orang. Senyum melambangkan sebuah keadaan hati yang sedang bersuka cita. Kita mampu membedakan mana senyuman yang tulus dan mana senyuman karna terpaksa. “Uga gia ciremi saja”, istilah ini sungguh sangat terkenal bagi orang Karo. Apa pun  yang terjadi hadapi dengan senyuman, kira-kira itulah yang menjadi maksud dari istilah tersebut.
            Sapa merupakan sebuah tindakan kerendahan hati. Keakrapan atau sebuah relasi berawal dari sebuah sapaan. Sapaan biasanya dibarengi dengan senyuman yang indah. Sapaan berarti memulai interaksi, meskipun interaksi itu sekadar sapaan yang dibalas dengan sapaan. Horas, mejuah-juah, yahowu, merupakan kekhasan orang Batak dalam hal bertutur sapa. Seharusnya kita bangga menjadi orang Batak memiliki tradisi sapa yang indah dan penuh makna seperti itu. Sapaan khas Batak itu merupakan sebuah budaya yang indah yang telah tercipta sejak lama. Jangan pernah kita lupakan tradisi itu.
            Salam dalam artian berjabat tangan merupakan sesuatu yang dilakukan sebagai rasa keakraban. Banyak orang malu bersalaman, padahal bersalaman menunjukkan kesetaraan kita sebagai manusia. Mengapa banyak orang bangga karena telah menyalam orang-orang hebat seperti paus, uskup, pastor, presiden, pemain bola terkenal, artis, penyanyi dan banyak lagi? Orang bangga bersalaman dengan mereka bukan semata-mata karena susahnya mendapat salam dari mereka. Tapi mereka bangga karena salam itu menunjukkan sebuah keakraban. Dengan menyalam orang-orang hebat tersebut mereka merasa ada relasi yang terjadi antara dirinya dengan orang hebat yang ia salam.
            Senyum, sapa, dan salam merupakan sesuatu yang harus kita lakukan tanpa ada unsure paksaan. Semua itu harus kita wujudkan dengan adanya kasih. Kasih merupakan sesuatu yang kita peroleh dari orang lain, bukan diri kita sendiri. Berarti kasih kita peroleh dengan adanya interaksi dengan orang lain. Senyum, sapa, dan salam dalam kasih, tanpa ada unsure kemunafikan adalah sesuatu yang indah untu membangun sebuah relasi yang indah
            Keluarga merupakan wadah pertama seorang anak dibimbing dan diajari. Kita harus mewujudkan senyum, sapa, dan salam itu untuk menciptakan sebuah keluarga yang rukun. Semuanya bermula dari keluarga. Yakinlah, jika anda sudah menerapkan senyum, sapa, dan salam di dalam keluarga, hal itu akan terbawa menjadi sebuah kebiasaan yang akan kita terapkan di lingkungan kita sendiri. Mungkin kadang kita merasa bosan jika tiap pagi kita mengucapkan selamat pagi kepada orang tua dan saudara-saudari kita. Banyak orang berpikir bahwa senyum, sapa, dan salam tidak lagi diterapkan dalam keluarga. Setiap hari bertemu dan bersama melakukan sesuatu hal, jadi untuk apa lagi senyum, sapa, dan salam? Tanggapan itu jelas salah. Apa salahnya jika setiap berangkat ke sekolah kita menyalm orang tua kita? Tak ada kata rugi untuk melakukan ketiga hal itu.
            Perlu kita ketahui jika senyum, sapa, dan salam telah menjadi kebiasaan bagi kita, maka ada satu tingkat lagi yang harus kita lakukan. Jadikanlah kebiasaan itu menjadi sebuah kebutuhan. Jika kita tidak melakukan ketiga hal tersebut, pasti terasa ada yang kurang. Itulah taraf sebuah kebutuhan.
            Keluarga yang rukun adalah keluarga yang di dalamnya selalu ada senyuman sebagai senjata ampuh untuk menghadapi suatu masalah. Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang di dalamnya selalu terwujud saling menyapa sesame anggota keluarga. Keluarga yang damai adalah keluarga yang di dalamnya selalu ada salam sebagai tanda saling mencintai. Keluarga yang rukun adalh keluarga yang di dalamnya terwujud senyum, sapa, dan salam dalam kasih.

  * Paska Fidelis Ginting
Syntaxis_IPA 2017/2018





SENYUM, SAPA, SALAM
       
            Salah satu kekhasan dan kebutuhan hakiki manusia adalah kebutuhan akan orientasi, khususnya pada action (tindakan). Tindakan berlaku bukan saja bagi seseorang melainkan bagi semua orang.
            Di dalamnya kebersamaan, relasi, komunikasi, ditumbuhkembangkan untuk dunia yang lebih rukun. Relasi, tegur-sapa, dan komunikasi sangat penting dalam hidup berkomunitas.
            Seminari! Seminari adalah wadah pembibitan calon imam. Di seminari,seminaris dibimbing, dibina, dan diarahkan menjadi pribadi yang unggul dan mandiri, sehingga berdampak bagi Gereja dan masyarakat. Sebagai seorang seminaris yang notabene adalah seorang calon imam harus memiliki ciri Hospitalitas.  Mengapa ? Sebab sebagai seorang imam kelak, ciri ini harus diimplementasikan kepada umat-Nya. Ciri Hospitalitas ini dapat kita wujudkan dengan melaksanakan prinsip 3S (Senyum, Sapa, Salam) dalma tindak-laku sehari-hari. Prinsip 3S (Senyum, Sapa, Salam) wajib dimiliki dan dihidupi oleh seminaris- calon imam.
            Namun, seiring kemajuan teknolgi dan komunikasi, banyak orang (tidak terkecuali
Seminaris) lebh menyukai berkomunikasi lewat dunia maya seperti Facebook, BBM, Whats App,
Atau sejenisnya daripada berkomunikasi di dunia nyata. Begitu asyiknya berkomunikasi lewat
Sosmed (sosial media) dewasa ini, membuat kita lupa waktu, lupa senyum, lupa salam, dan lupa
Sapa. Akibatnya, relasi dengan sesama bersifat kaku. Sikap individualistis semakin meningkat
Seyogia-nya, relasi sejati (kontak langsung) jauh lebih kaya, mendalam, dan bermakna daripada
relasi menggunakan teknologi komunikasi.
            Senyum, Sapa, dan Salam
            Kehidupan ini membutuhkan kata-kata (sapa). Sapa mampu membentuk penghiburan, peneguhan, dan harapan bagi orang lain yang kita jumpai. Kita, seminaris diharapkan mampu mengupayakan suasana persaudaraan yang erat dan bersahabat bagi semua orang.
            Sapa harus dibarengi dengan senyum. Senyum mengisyaratkan bahwa kita betul- betul mencintai orang yang kita jumpai itu. Senyum harus tulus bukan paksaan atau karena hanya ada maunya saja. Senyum yang bersumber dari hati yang tulus mampu mengubah hidup orang lain menjadi lebih indah.
            Senyum dan sapa harus juga dibarengi dengan salam. Salam menunjukkan sikap rendah hati. Dengan menyalam berarti kita berbaur dengan orang lain. Tidak ada sekat atau jurang pemisah antara saya dan dia. Maka, jelas bahwa senyum, sapa, dan salam adalah satu kesatuan yang erat hubungannya. Senyum membutuhkan sapa dan sapa membutuhkan salam.
            Maka, kita seminaris- calon imam dituntut untuk lebih meningkatkan relasi kita dengan orang lain. Kita semua diundang mengembangkan sikap bersaudara dan ramah- tamah. Senyum, sapa, dan salam dalam cinta kasih merupakan contoh konkret meningkatkan relasi dengan orang lain. Bukankah Yesus bersabda: “ Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Mat 25:40).
                                                                                                             
* Cokro Jaya Simanihuruk
Poesis_IPS 2017/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar