Selasa, 12 Desember 2017

Lembaga Edisi Juli-Desember 2017



Sajian Utama

IMAM TIDAK JATUH DARI LANGIT

Sekali senyum hilanglah sedih
Dua kali senyum beban makin ringan
Tiga kali senyum, umur makin panjang
Empat kali senyum
Terlalu banyak semyum, anda kurang waras
Demikianlah salah satu tulisan yang pernah saya baca di beberapa tempat. Saya kira Anda juga pernah melihat tulisan-tulisan senada yang bisa jadi terkesan kocak seperti misalnya, “awali pagimu dengan senyuman dan jika tidak orang yang bisa kamu senyumi, senyum-senyum aja sendiri”. Sebaliknya ada yang mengatakan “awali pagimu dengan sarapan dan bukan dengan senyuman supaya siangnya ngggak kelaparan”. Ada-ada saja memang. Tentu tidak semua ungkapan-ungkapan kocak itu benar semuanya. Akan tetapi pada dasarnya senyum itu memberikan dampak positif baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Dalam beberapa kesempatan saya pernah mengamati beberapa warung makan yang setiap hari pengunjungnya cukup banyak. Sementara warung makan tetangganya, walaupun dengan menu yang sama dan saya kira tidak kalah enak, toh kurang laris. Ternyata karenapelayan rumah makan itu lebih ramah. Memang hukum alamnya makanan dan minuman itu akan enak semuanya jika disantap pada saat lapar dan haus. Tetapi meski demikian, hal itu tidak berarti jika anda dimarahi sebelumnya. Bayangkan Anda ketika sedang makan, dibentak-bentak ataupun dipandang sinis. Saya sangat yakin, menggigit rendang itu akan seperti menggigit sandal swallow. Sebaliknya, saat anda sebelum anda makan dikasi senyuman, ikan asin akan serasa rendang.

Saya bukan terutama hendak membahas senyuman di sini. Tema yang hendak saya angkat ialah pentingnya keharmonisan keluarga terhadap kelangsungan calon-calon imam. Kita sepakat bahwa dengan senyum tidak jaminan keluarga harmonis, sebagaimana ada ungkapan nyeleneh yang mengatakan “senyum tidak menyelesaikan masalah”.  Tetapi senyuman membuka pintu penyelesaia masalah.

Keluarga Harmonis dan Pendidikan Calon Imam
Setelah kurang lebih empat tahun menjadi pendamping di seminari, saya sampai pada kesimpulan bahwa sangat tidak mudah menjadi seorang pendidik zaman ini. Pertama, karena memang saya dan kebanyakan teman-teman formator di seminari entah di Seminari Siantar ini ataupun di seminari lain, memang tidak dibekali secara khusus. Walupun tetap bisa membela diri dengan mengatakan bahwa “tidak ada orang pernah tamat menjadi pendidik, sebab dia harus belajar terus menerus selama masih hidup”.

Hal yang membuat sebenarnya yang paling berat ilah membentuk siswa yang “maaf”, sebelumnya tidak sungguh dididik dalam keluarga. Tentu para formator bisa didebat dengan mangtakan: “Itulah tugas formator untuk memformat, sebab jikalau tidak perlu lagi diformat, tidak ada gunanya formator”.  Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Tetapi kurang tepat jika kita memaksa tukang las membuat pagar yang sangat indah dan berseni sementara bahannya dari besi yang tidak karu-karuan bentuknya. Kurang tepat jika kita mencibir tukang pahat karena tidak bisa membuat patung yang indah dari kayu yang banyak mata kayunya. Mereka, tukang las, paha itu pasti bisa menghasilkan karya seni tetapi tidak akan sulit memenuhi ekspektasi kita.

Kurang lebih sama, seminari memiliki peranan yang sama, mengolah bahan yang ada. seminari memiliki peran yang penting karena bertugas mengolah bahan yang ada untuk menjadi produk yang bernilai lebih. Akan tetapi sekali lagi, perlu kita ingat bahwa output sangat dipengaruhi input. Bahan yang diolah seminari itu berasal dari keluarga-keluarga. Saya tidak mau memvonis bahwa calon-calon yang masuk itu kualitasnya jelek, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa semakin banyak hal yang sebelumnya diandaikan dimiliki seminaris itu tetapi ternyata tidak. Hal-hal semacam itulah yang membuat proses mem-format menjadi lebih berat.

Jika di dalam keluarga sudah harmonis dan penanaman nilai itu sudah berjalan dengan baik maka sangat enaklah menjadi formator di seminari. Jika dalam keluarga jarang ada makan bersama, maka wajarlah kalau memang ditemukan ada siswa yang tidak bisa duduk tenang dan sopan pada saat makan. Jika dalam keluarga abai dalam doa, maka wajarlah kita temukan banyak siswa yang sangat gelisah jika sudah menyangkut acara doa. Jika dalam keluarga, si anak tidak sungguh dikontrol akan penggunaan medsos, maka wajarlah jika kita temukan siswa yang sangat marah ketika diskors tidak internet. Jika dalam keluarga, orangtua tidak sungguh bisa memegang kendali atas anaknya, maka wajarlah jika kita temukan siswa yang sangat tidak terima jika dikoreksi.

Sekali lagi tulisan ini tidak bermaksud mau melempar tanggung jawab sebagai formator. Akan tetapi harapan bahwa akan semakin banyak, semakin banyak yang bisa ditanamkan nilai, jika memang bahan baku, yakni anak dalam keluarga sudah tinggal dalam keluarga yang harmonis.

Marilah Memilih yang lebih mudah
Akhir akhir ini cukup laris manis dijual buah-buahan yang memiliki bentuk-bentuk unik. Misalnya ada semangka berbentuk kotak, persegi dan bawak mirip wajah orang. Ini sungguh nyata dan bisa dibuat dengan syarat disaat buah itu masih kecil, dia dimasukkan semcam wadah cetakan sesuai dengan yang kita inginkan. Artinya apa? Bahwa untuk membentuk karakter anak dan mencapai hasil yang maksimal, bentuklah mulai dari kecil.

Jika diibaratkan dalam membangun, buatlah fondasi yang bagus sebab itulah yang menjadi penentu keberhasilan bangunan. Fondasi memang tidak sungguh kelihatan dalam sebuah bangunan, tetapi sebagus apapun bangunan yang berdiri di atasnnya akan sia-sia jika fondasi tidak bagus. Atau kalupun bisa berdiri, paling tidak dia tidak akan bertahan lama terhadap segala hujan badai. Karena itulah Yesus dalam sabda-Nya mengatakan hal yang sama, bodohlah orang yang membangun rumah di atas pasir. (bdk. Mat 7:24-27)

Jadi sebenarnya jauh lebih mudah jika sejak awal setiap keluarga katolik membentuk anaknya, mendidik anaknya dalam hidup keseharian daripada si anak menginjak remaja atapun dewasa. Masalah klasik yang terjadi ialah membiarkan anak dibersarkan oleh lingkungan, tetangga, warnet, televisi dsb. Sehingga memang banyak anak tersebut meskipun darah daging kita tetapi dia adalah anak yang dibersarkan oleh tetangga, leingkungan, internet, hp, televisi. Akhirnya memang keluarga ataupun orangtua sendiri merasa kesulitan sebab anaknya sendiri tidak bisa dikuasainya. Oleh karena itu jika lebih mudah membentuk yang kecil, mengapa harus memilih yang sulit, yakni mengarahkan orang yang sudah dewasa.
 
Janganlah menjadi tidak bisa tersenyum membaca tulisan ini, etaplah tersenyum walaupun tidak menyelesaikan masalah karena senyuman membuka pikiran kita akan segala jalan keluar dari masalah.

                                      


                               *by: RD. Parlindungan Purba 
                                           Koordinator Prefek di Seminari Menengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar