Selasa, 12 Desember 2017

Sosialisasi Khusus Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar

   
  *RD. Josep Gultom
      Rektor Seminari Menengah
  1.Pendahuluan
 Kita semua tahu bahwa Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar adalah seminari menengah milik Keuskupan Agung Medan sebagai tempat penyemaian bibit panggilan bagi anak-anak yang mau menjadi imam. Di Seminari Menengah diharapkan anak-anak dapat mempelajari dan mengembangkan tanda-tanda panggilan yang sebenarnya (ada dalam dirinya) dengan bantuan pembina. Anjuran Apostolik Pastores Dabo Vobis menegaskan agar seminari menengah dapat menjadi pendidikan dasar bagi panggilan imamat yang semakin kontekstual dengan situasi Gereja yang dihadapi (PDV 2). Optatam Totius mengatakan agar di seminari-seminari menengah, yang didirikan untuk memupuk tunas-tunas panggilan, para seminaris hendaknya melalui pembinaan hidup rohani yang khas, [...], menjalani hidup yang cocok dengan usia, mentalitas dan perkembangan kaum muda, [...]. Kedua dokumen menuntut agar para seminaris unggul dalam beberapa hal, yakni dalam ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan pastoral.
 Tentu kita menyadari, agar terselenggara harapan dari isi dokumen-dokumen Gereja itu,pembina seminari tidak bisa bekerja sendiri, tetapi membutuhkan kerjasama dari seluruh komponen Gereja di Keuskupan ini. Hal itu sesuai dengan isi dari KHK 2016 kan 233 § 1: “Tugas seluruh komunitas kristianilah untuk memupuk panggilan, agar kebutuhan-kebutuhan akan pelayanan suci di seluruh Gereja terpenuhi secara cukup; kewajiban ini terutama mengikat keluarga-keluarga kristiani, para pendidik dan, dengan alasan khusus, para imam, terutama para pastor-paroki[...].
 Salah satu hasil penelitian tentang Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar, yang dilakukan oleh tim RP. Herman Nainggolan mengatakan bahwa staf seminari masih sangat perlu menjalin kerjasama dengan pastor paroki untuk penyelenggaraan seminari dan pembinaan

bibit panggilan. Maka dengan menyadari keempat hal di atas, maka kami memutuskan untuk datang ke paroki-paroki, dan diawali dengan pertemuan vikariat, untuk sosialisasi, serta menjalin kerjasama yang perlu. Sekali lagi harus kami tekankan bahwa kami sadar, untuk pengembangan panggilan dan pengembangan seminari, pandangan tidak hanya diarahkan ke dalam, tetapi juga ke luar, karena bagaimana pun seminari menengah adalah milik dan tanggungjawab semua komponen Gereja di keuskupan ini, sebagaimana diamanatkan dokumen-dokumen Gereja tadi.

  2. Maksud dan tujuan
  Secara gamblang kami sebutkan maksud dari tulisan ini, yakni:
  a.  sosialisasi situasi kepada seluruh stake holder Seminari Menengah Christ SacerdosPematangsiantar. Dengan sosialisasi ini kami berharap agar kita semua menyadari bahwa Seminari Menengah Christus Sacerdos adalah milik keuskupan (= dalaarti tertentu milik semua umat) dan juga tanggungjawab semua umm at di keuskupan ini. Berkembang atau tidak seminari menengah, bukan hanya tanggungjawab staf seminari, tetapi juga seluruh komponen di keuskupan ini, baik pastor di paroki dan juga umat cukup berperan.
 b. Dengan kesadaran pada butir pertama, kami ingin menggalang bentuk kerjasama yang memungkinkan di antara kita, baik itu pola pembinaan, pencarian calon, dan juga pemikiran untuk dana operasional.

  3. Panorama Singkat atasRealitas Seminari Menengah Christus Sacerdos
a.   Data siswa tahun 1999/2000 – 2017/2018 Rasanya perlu untuk kami laporkan data jumlah siswa selama 10 tahun terakhir ini untuk melihat perkembangan dari tahun ke tahun.

Dari data di atas dapat kita lihat bahwa jumlah terbanyak seminaris dari antara tahun ajaran 1999/2000 – 2017/2018 terjadi pada tahun 2001/2002 dengan jumlah 311 siswa. Dicatat bahwa pada tahun itu jumlah Probatorium (100 orang) dan Rhetorica (37 orang) yang terbanyak selama kurun waktu ini. Akan tetapi perlu dicermati bahwa pada tahun itu siswa yang keluar juga mencapai jumlah besar, yakni 58 orang, urutan ketiga setelah yang terjadi pada tahun ajaran 2015/2016 (68 orang) dan tahun ajaran 2013/2014 (59 orang). Jumlah siswa paling sedikit terjadi pada tahun ajaran 2007/2008, yakni 187 siswa dan diikuti dengan tahun ini sebanyak 190 siswa. Kalau kita amati jumlah Probatorium, jumlah yang paling sedikit terjadi pada tahun ajaran 2017/2018 yakni sebanyak 54 orang. Jumlah siswa Rhetorica paling sedikit ada pada tahun ajaran 2017/2018 ini, yakni sebanyak 6 orang, setelah pernah terjadi berjumlah 9 orang pada tahun ajaran 2011/2012.

b. Keadaan saat ini
Dalam evaluasi akhir tahun staf serta penyusunan rencana program kerja tahun ajaran baru tanggal 24-25 Juni 2017 kami mengevaluasi pola pendekatan dan pembinaan yang terjadi selama ini. Dari evaluasi itu kami memutuskan untuk membuat beberapa pembenahan/perubahan, khususnya pelokasian tempat tinggal para seminaris menurut kelompok kelasnya. Kelas Probatorium mendapat pendampingan secara khusus di domus Alverna, kelas Grammatica di domus Subasio, kelas Syntaxis di domus “Tabor”, sedangkan Poesis dan Rhetorica digabungkan di domus Rivotorto. Dasar penggambungan ini adalah untuk mencoba meminimalisir “kuasa” senioritas kepada Probatorium dan Grammatica, serta mencoba memberi “porsi” calon frater kepada Poesis dan Rhetorica, yang nantinya akan bersama di Tahun Orientasi Rohani atau postulan. Hal yang sangat penting adalah bahwa siswa-siswa Syntaxis perlu “diselamatkan”, dalam arti agar mereka nantinya lebih banyak melanjutkan ke kelas Poesis, bukan ramai-ramai tarik diri atau dikeluarkan. Kami melihat bahwa mereka perlu didampingi lebih “khusus” mengingat tahun Syntaxis adalah “tahun penentuan” untuk lanjut atau tidak menjadi calon imam, serta di sisi lain mungkin merupakan tahun puncak kebosanan di seminari.
Perubahan itu tentu sangat berpengaruh pada komposisi dan pola pendampingan para siswa. Setiap domus (ada 4 domus) idealnya didampingi oleh 2 staf (=1 prefek dan 1 co-prefek), sehingga jumlah staf yang diharapkan untuk menjadi prefek sebanyak 8 orang. Realitasnya, yang bisa menjadi prefek/co-prefek ada 6 orang staf (3 imam, 1 diakon, 1 pra-diakon, 1 frater TOP). 
Para prefek/co-prefek harus menanamkan disiplin hidup serta kepribadian pada setiap seminaris di domusnya melalui berbagai kegiatan, pendekatan dan bimbingan. Sebagai tujuan, para seminaris diharapkan menginternalisasikan nilai-nilai PANDU (Pendoa, Mandiri, Disiplin, Jujur). Pelaksanaan nilai PANDU ini dievaluasi setiap bulan oleh prefek/co-prefek dengan indikator-indikator yang sudah ada. Selain pendampingan oleh prefek/co-prefek, setiap kelas juga memiliki pembimbing masing-masing. Dua kali dalam sebulan ada bimbingan kelas dengan tema bimbingan berbeda untuk setiap kelas. Juga telah dibuat format evaluasi bagi pembimbing kelas yang meliputi kematangan manusiawi, kematangan intelektual, kematangan hidup kristiani, kematangan hidup panggilan, dan kematangan kerasulan.
Melalui dua pola pendampingan ini, kami berharap akan semakin dapat mengenal setiap seminaris lebih dekat. Evaluasi terhadap setiap seminaris pun semakin rasional karena berdasarkan data yang diperoleh lewat prefek/co-prefek dan pembimbing kelas. Keberadaan Spiritual Director juga kiranya akan sangat berdampak karena secara khusus beliau akan berbicara dengan masing-masing siswa tentang hidup panggilan dan hidup rohani. Beliau akan berjumpa dengan setiap siswa dua kali dalam satu semester, sehingga untuk saat ini setiap hari beliau stand by di ruang bimbingan, pun ketika jam sekolah berlangsung.
Pengembangan bakat seni dicoba dikembangkan lewat kegiatan sore seni setiap hari Jumat sore. Ada beberapa bentuk, yakni: drama, paduan suara, tari, group band, gitar akuistik, musik tradisonal, kulintang, organ/piano, biola, dan karya tulis. Pengembangan bakat di olahraga, yakni bola kaki, bola volley, basket ball, tenis meja, bulu tangkis, dan futsal; masing-masing memiliki pelatih, dengan jadual latihan tiga (3) kali dalam satu minggu.

4. Permasalahan konkret yang dihadapi saat ini
    Di antara beberapa permasalahan yang butuh pembenahan, ada dua permasalah konkret
 yang dihadapi saat ini, yakni grafik penurunan minat untuk masuk seminaridan kedua,  masalah dana.
4.1 Minat masuk Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar
     Kalau kita perhatikan lima tahun terakhir ini, ada grafik penurunan peminat masuk ke seminari. Jumlah seminaris tahun 2013/2014 sebanyak 240 orang, tahun 2014/1015 sebanyak 238 orang, tahun 2015/2016 sebanyak 223 orang, tahun 2016/2017 sebanyak 209 orang, dan tahun 2017/2018 sebanyak 189 orang.


Pertanyaannya adalah apakah jumlah anak yang berminat menjadi imam sudah semakin sedikit, ataukah promosi kepada mereka yang semakin berkurang Ataukah opini tentang seminari semakin negatif? 

4.2  Masalah dana 
Salah satu permasalahan yang terus menerus dikeluhkan dalam mengoperasikan Seminari Menengah Christus Sacerdos adalah soal dana. Pemasukan dari siswa selalu tidak mencukupi untuk operasionalsekolah dan asrama. Selama ini dana untuk menutupi cost kekurangan di seminari menengah berasal dari Keuskupan Agung Medan sebesar Rp 672.000.000, 00 per tahun atau sekitar Rp 56.300.000,00 per bulan (data pada tahun 2016/2017). Pada tahun 2017/2018 diproposalkan kepada KAM sebesar Rp 739.200.000,00 (sebesar 61,6 juta per bulan) dengan perhitungan gaji guru/pegawai naik 10 %. Selain itu didapatkan dana GOTAUS sekitar 50 – 100 juta per tahun, yang berasal dari penyumbang rutin dan juga alumni. Di sisi lain sebagian orang tua siswa memohon keringanan biaya untuk anaknya, sehingga tidak mampu membayar penuh biaya yang telah ditentukan (untuk saat ini Rp 1.350.000,-). Dana talangan rutin akan tetap menjadi beban bagi Keuskupan Agung Medan, yang tahun ke tahun akan semakin besar.
Untuk menjawab permasalahan di atas, pernah muncul usul untuk penggalangan dana abadi. Penggalangan dana abadi sudah diserukan oleh para alumni awam (CMVE) semasa RP. Erwin Manullang OFMCap sebagai rektor Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar.
Seruan itu semakin menguat pada saat ini ketika muncul seruan untuk overhaul Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar. Para alumni melihat bahwa penggalangan dana abadi sangat penting untuk masa depan seminari menengah. Mereka mengatakan agar Seminari Menengah Christus Sacerdos bisa eksist ke depan tanpa terikat dari bantuan Keuskupan, maka harus memiliki dana abadi sebanyak 75 M. Tapi bagaimana caranya? Sepertinya para alumni pun belum bisa memberi jalan yang tepat, jelas dan efisien.
5.    Proyeksi kami
Untuk menjawab dua permasalah konkret tadi, kami telah melakukan tiga kali aksi panggilan pada bulan Oktober dan November ke 6 paroki di Keuskupan ini (SPP Kabanjahe, St Kondrat Martubung, St. Fransiskus Berastagi, St. Fransiskus Tanjung Selamat, St Fidelis Dolok Sanggul, dan St Lusia Parlilitan). Kami memikirkan pembentukan Gerakan Pendukung Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar di paroki-paroki di keuskupan ini. Gerakan ini, khususnya dalam pengumpulan dana, sudah disetujui oleh Bapa Uskup pada bulan Juli yang lalu (=lampiran surat kami ke vikep). Hanya saja perlu kami tekankan bahwa bagi kami, tim yang bersedia untuk masuk anggota gerakan ini bukan hanya untuk pengumpulan dana tetapi menjadi rekan kerja kami staf seminari di paroki-parokiuntuk promosi, penyampaian informasi-informasi, dan tentu termasuk juga dalam penggalangan dana.
Bagaimana bentuk konkret dan pelaksanaan teknisnya? Kami mengharapkan masukan dari para pastor dan bapak ibu sekalian. Sebagai illustrasi, selain yang kami harapkan donatur rutin yang dimaksud dalam brosur, seandainya setiap keluarga Katolik di KAM ini setiap bulan menyumbang seribu rupiah tiap bulan, masalah dana sudah selesai. Selain itu sangat kami harapkan penyampaian informasi, dan ajakan masuk seminari dari para pastor di paroki. Semoga bermanfaat!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar