Senin, 29 September 2008

CERPEN: CINTA TAK TERBALASKAN

CINTA TAK TERBALASKAN


 


Kembali jalan setapak itu kulalui. Harum semerbak bunga melati yang tersentuh embun pagi menelusuk hidungku. Kapling-kapling kehancuran hati mulai terpendam dalam keheningan. Semuanya telah terjadi. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.


            Semua tak akan mengerti. Semua kebahagianku kini hanya kenangan. Kerikil-kerikil tajam harus kutempuh untuk mencapai tujuanku. Dalam perjalanan langkahku terhentak di sebuah pohon beringin yang rindang. Pohon itu kelihatan tenang menyimpan sejuta kenangan. Ia hanya menjadi saksi bisu atas pahitnya penderitaanku. Di bawah pohon itu aku duduk dan mengenang semua kejadian yang menggilas hidupku.


            “Jesika…Jesika… tunggu… !” teriakku seakan menyuruhnya berhenti. Ia berpaling dan bingung sendiri melihat tingkahku yang penuh semangat dan aneh. Aku berdiri disampingnya dan berjalan menuju pintu gerbang sekolah.


            Waktu itu kira-kira 10 menit lagi pukul tujuh. Kami duduk diserambi kelas tanpa berbicara sedikitpun. Aku hanya memandang wajahnya yang bersih, cantik, dan bercahaya. Aku begitu menyayangimu, kataku dalam benakku. Tapi, aku tak punya keberanian untuk mengungkapkannya.


            “Hi… pagi-pagi gini kok dah ngelamun?”


            “Nggak…nggak ada apa-apa kok…?


            “Jes, nanti siang kita pulang bareng, bolehkan?” kataku  dengan penuh keragu-


            raguan.


            Ia hanya membalas dengan senyuman. Aku tertegun seketika, berarti ia setuju.


            Teng…teng…teng…, lonceng sekolah berbunyi. Aku masuk ke kelas dan duduk di bangku paling depan. Sejak awal aku tahu mengapa hatiku selalu gelisah. Aku terus membayangkan apa yang akan terjadi. Mengapa aku tak berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Sampai kapan aku harus menahan gejolak hati ini. aku tak bisa begini terus. Aku tahu dia juga memiliki perasaan yang sama seperti aku.


            Sesekali kupandang ke depan. Seorang guru yang gendut, jelek bagaikan buldoser terlihat sedang menerangkan pelajaran yang terlalu sulit kupahami. Ia hanya menambah beban hidupku. Pelajarannya begitu membosankan monoton dan sulit kupahami. Aku muak dengan semua ini. aku hanya bisa duduk manis dengan pandangan terarah ke depan. Aku tak bisa konsentrasi dengan pelajaannya.


            Seketika itu pula terlintas bayangan wajahnya. Aku begitu merindukannya. Aku tak bisa lagi menahan gejolak cinta yang membuatku gelisah. Aku begitu takut kehilangan dirinya. Lamunanku terus berlanjut hingga bel pulang berbunyi. Aku tersadar dan langsung menemui Jesika di kelasnya.


            “Jes, jadikan pulang bareng?” kataku dengan penuh keraguan.


Ia hanya membalasnya dengan senyuman. Kamipun mulai menyelusuri jalan kecil beraspal tanpa berbicara sedikitpun. Mungkin rasa malu masih menghantui pikiran kami. Hingga langkah kami pun terhenti di sebuah pohon beringin. Pohon itu memberikan suasana sejuk bagi kami berdua. Kami duduk berdekatan tepat di dekat pangkal pohon itu.


            Di sini aku mulai memecahkan kesunyian dan bertanya,


            “Bagaimana pelajaranmu di sekolah.”


            Aku tak tahu apa yang hendak aku katakan. Ini adalah pengalaman pertamaku mengajak seorang gadis berdua. Kemudian ia menjawab dengan penuh keramahan.


            “Biasa-biasa saja, sama seperti hari sebelumnya”.


            “Ooo”, jawabku”.


            Hatiku mulai tidak tenang. Perasaanku sangat takut. Hati kecilku berkata, “Aku takut kehilangan dirinya”. Tapi perasaanku itu kuabaikan begitu saja. Waktu itu kira-kira pukul 12.30. Aku mulai mengutarakan seluruh isi hatiku padanya. Ia hanya tertegun melihat wajahku yang bimbang dan penuh harapan. Aku mulai menjamah tangannya dan berkata:


            “Jes, aku sangan menyayangimu, maukah kamu jadi pacarku?”


            Ia menjadi bertambah bingung dengan sikapku pada saat itu. aku memandang wajahnya dengan penuh harapan. Ia kelihatan bingung mempertimbangkan apa yang harus ia katakan padaku. Aku yakin bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama seperti aku. Tapi, ia hanya malu mengutarakannya.


“Aku belum bisa menjawabnya sekarang, beri aku waktu 2 hari untuk memikirkannya matang-matang”, katanya dengan penuh pertimbangan.


            Aku hanya mengiakan perkataannya. Kamipun pulang menyelusuri jalan yang mulai agak ramai dangan kendaraan. Ia kelihatan melamun memikirkan sesuatu. Ia tidak lagi memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Ketika hendak menyeberangi jalan tiba-tiba sebuah mobil sedan datang dari arah kanannya dan menyambut tubuhnya. Sambarannya sangat dahsyat, hingga tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Semuanya menjadi kalang kabut. Aku tidak peduli lagi sendu yang terjadi di antara kekacauan. Aku berlari menghampirinya yang penuh berlumuran darah.


            “Bertahanlah Jes… kamu pasti selamat”.


            Aku memangku tubuhnya dan berharap ia akan bertahan. Tetapi semua terjadi begitu cepat. Tubuhnya membujur kaku menunjukkan ketidakberdayaannya. Tanpa kusadari genangan air mata mengucur deras. Semua terasa pedih dan menyakitkan. Aku sangat menyesal membiarkan dirinya pergi sendiri. Aku sangan egois.


            Semuanya kini telah terjadi. Kini ia pergi meninggalkan aku dalam kesendirian. Nasib begitu kejam menghancurkan kebahagianku.


 


By: Arie Kristanto


Probatorium B 2007-2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar